23.3 C
Bogor
Sabtu, 18 September 2021

Cerita Pabrik Tahu Bertahan Di Masa Pandemi

Berita Populer

- Advertisement -

LEUWISADENG – Cerita Budiyono seorang pengusaha pabrik tahu masih bertahan di masa pandemi Covid-19, tak jarang harus meminjam uang kepada orang lain untuk membayar gaji karyawannya.

Budiono pemilik pabrik tahu yang berlokasi di Kampung Paku, Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng itu mengaku, bahwa Pandemi Covid -19 turut mempengaruhi sektor usahanya tersebut.

“Jelas pengaruhnya besar, selain pemasarannya yang sepi kemudian bahan pokoknya kacang kedelai naik jadi untuk menutupi biaya-biaya karyawan, transportasi dan biaya tak terduga lain nya itu tidak mencukupi,” ungkap Budiono kepada wartawan pada, Senin (02/08/2021).

- Advertisement -

Budiyono mengatakan, bahwa dengan memiliki 11 orang karyawan, dirinya memasarkan tahu hasil produksinya itu ke tiga pasar seperti pasar Leuwiliang, Cigudeg dan Jasinga.

“Saat ini pemasarannya sepi di pasarnya karena orang (pembeli-red) kalau tidak penting-penting amat mah gak ke pasar dan daya beli masyarakat saat ini lemah ditambah bahan pokoknya naik,” katanya.

Baca Juga :  Uji Coba Rudal Baru Korea Utara, Bisa Lenyapkan Sebagian Besar Jepang

- Advertisement -

Saat ini kata dia, harga kedelai sudah menurun, untuk perkilo nya Rp 10 ribu yang sebelumnya kata dia mencapai Rp 11 ribu. Namun, Budiono mengaku masih kebingungan dalam membagi penghasilan yang didapatkan dari hasil penjualan tahu di pasar.

Baca Juga :  Persipura Terpuruk, Persija Harus Tetap Wapada Menghadapi Lawan

“Kita usaha sekarang ini hanya bisa bertahan saja dimasa pandemi,” kata dia.

Sebelum pandemi covid-19, kata Budiono dalam satu hari dirinya bisa menggunakan bahan baku sampai 5 hingga 6 kwintal kedelai. Namun, dimasa pandemi ini dirinya hanya menggunakan 3 kwintal bahan baku kedelai saja.

- Advertisement -

“Dengan kondisi begitu ya kadang kadang untuk gaji karyawan saja tekor, kadang-kadang hari ini tekor, besok cukup ya begitu-begitu saja,” keluhnya.

Budiyono menjelaskan, bahwa jika tahu hasil produksinya itu tidak habis terjual di pasaran terpaksa harus dibuang akibatnya, dirinya harus menelan kerugian.

Baca Juga :  Pengertian Serta Perbedaan Nabi dan Rosul

“Karena kita tidak menggunakan bahan pengawet, jadi kalau tidak laku hari ini ya anggap lah tidak bisa dimakan. Karena pengecer atau pedagang di pasar itu hanya menjual saja, kalo laku setor kalau tidak laku ya sisanya di kembalikan lagi ke kita, kalo di kembalikan lagi ya kita buang,” cetusnya.

Budiyono berharap kepada pemerintah, agar memperhatikan pengusaha kecil seperti dirinya terlebih di masa pandemi covid-19 seperti saat ini.

“Artinya kita juga meminta solusi kepada pemerintah agar pengusaha kecil seperti kami ini yang bertahan di masa pendemi seperti sekarang ini dan mudah-mudahan pandemi segera berlalu agar prekonomian masyarakat bisa kembali pulih,” harapnya. (Fahri)

- Advertisement -
Bogor
broken clouds
23.3 ° C
23.3 °
23.3 °
88 %
1.7kmh
59 %
Sab
33 °
Ming
31 °
Sen
30 °
Sel
31 °
Rab
31 °

Berita terbaru

Mad Ajis : Mari Kita Buktikan Statement Cinta Bogor

BOGOR - Organisasi Masyarakat (Ormas) Laskar Banten Dewan pimpinan cabang (DPC) Kota Bogor, keberadaanya kini telah resmi dan...

Berita Terkait
publikbicara.com