Beranda Internasional BRIN Perkuat Riset dan Kolaborasi Internasional untuk Industri Mineral Berkelanjutan

BRIN Perkuat Riset dan Kolaborasi Internasional untuk Industri Mineral Berkelanjutan

Seminar Internasional “Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries” yang diselenggarakan di Gedung Widya Graha, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawiriharjo BRIN, Jakarta. Foto: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan transformasi industri mineral Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Untuk meningkatkan daya saing di era transisi energi, hilirisasi harus diperkuat melalui penguasaan teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta kolaborasi riset internasional.

Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Prof. Nunung Nuryartono, mengatakan keberhasilan hilirisasi kini ditentukan oleh kemampuan industri mengintegrasikan teknologi, tata kelola yang baik, dan prinsip keberlanjutan dalam seluruh rantai nilai. Hal tersebut diungkapkan dalam Seminar Internasional “Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries” yang diselenggarakan di Gedung Widya Graha, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawiriharjo BRIN, Jakarta, Kamis (30/7).

“Hilirisasi bukan sekadar membangun lebih banyak smelter. Hilirisasi adalah membangun kecerdasan dan akuntabilitas pada setiap tahapan rantai nilai industri,” kata Nunung seperti dikutip dari laman resmi BRIN.

Menurut Nunung, nilai tambah mineral saat ini tidak hanya ditentukan oleh kandungan geologinya, tetapi juga efisiensi proses produksi, penggunaan energi, intensitas emisi karbon, hingga kemampuan industri menyajikan data yang transparan terkait emisi, penggunaan air, dan pengelolaan limbah.

Ia menilai AI menjadi teknologi strategis untuk meningkatkan efisiensi manufaktur dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Namun, pemanfaatannya harus dibarengi tata kelola yang kuat agar produktivitas tidak mengorbankan lingkungan maupun kepercayaan publik.

Sebagai bagian dari transformasi tersebut, BRIN tengah mengembangkan National Life Cycle Inventory Database, basis data yang menjadi fondasi penghitungan jejak karbon, penilaian keberlanjutan, serta pemenuhan standar perdagangan internasional. Selain itu, BRIN juga mengembangkan riset pemanfaatan limbah dan residu pengolahan mineral melalui pendekatan ekonomi sirkular guna meningkatkan efisiensi sumber daya sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

READ  BRIN Cetak Penggerak Eco-Village Rendah Karbon Lewat Kolaborasi Internasional

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan hilirisasi merupakan strategi utama untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia. Menurutnya, selama bertahun-tahun Indonesia belum memperoleh nilai tambah maksimal karena sebagian besar komoditas masih diekspor dalam bentuk bahan mentah.

Ia menyebut pemerintah kini tidak hanya mempercepat hilirisasi mineral kritis seperti nikel, tetapi juga mulai mengembangkan hilirisasi di sektor pertanian dan sumber daya hayati. Upaya tersebut didukung pembangunan ekosistem data nasional yang terintegrasi dengan pemanfaatan AI agar menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih cepat dan akurat.

Luhut juga mendorong penguatan kerja sama riset antara Indonesia dan Tiongkok, terutama dalam pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sehingga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi kedua negara.

Sementara itu, Wakil Presiden Northeastern University, Tiongkok, Prof. Xu Wei, menilai AI akan menjadi teknologi utama dalam transformasi industri material dan manufaktur. Meski demikian, ia menegaskan AI harus diposisikan sebagai alat pendukung manusia, bukan pengganti.

Menurut Xu, penerapan AI industri telah terbukti meningkatkan produktivitas, efisiensi energi, dan keselamatan kerja melalui sistem pertambangan cerdas, metalurgi digital, serta manufaktur otomatis. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan material dan pakar AI agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada analisis data, tetapi juga pada pemahaman ilmiah mengenai karakteristik material.

Melalui seminar internasional tersebut, BRIN memperkuat komitmennya membangun kolaborasi riset global untuk mempercepat pengembangan manufaktur cerdas dan industri mineral berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global, sekaligus mendorong lahirnya teknologi dan inovasi bernilai tambah dari dalam negeri.(Red).

READ  Persib Ditahan Arema 0-0 di GBLA, Rekor Sempurna Kandang Terhenti

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakMariano Peralta Langsung Berlatih, Persib Matangkan Persiapan Hadapi Tampines Rovers
Artikulli tjetërHadapi TPPO Era Digital, Yusril dan Wakapolri Tekankan Sinergi Hukum Internasional