Beranda Advetorial Sekolah Advokasi Karang Taruna Cigudeg, Menyalakan Keberanian Pemuda untuk Peduli dan Bersuara

Sekolah Advokasi Karang Taruna Cigudeg, Menyalakan Keberanian Pemuda untuk Peduli dan Bersuara

Sekolah Advokasi Karang Taruna Cigudeg, Menyalakan Keberanian Pemuda untuk Peduli dan Bersuara

Publikbicara.com — Perubahan sering kali tidak dimulai dari ruang-ruang besar. Ia bisa tumbuh dari sebuah ruang sederhana, ketika anak-anak muda berkumpul, berdiskusi, dan mulai bertanya tentang persoalan yang terjadi di sekelilingnya.

Semangat itulah yang terasa dalam Sekolah Advokasi Karang Taruna Kecamatan Cigudeg, yang digelar di Kantor Kecamatan Cigudeg, Minggu (13/9/2026).

Sebanyak 50 peserta dari 15 desa se-Kecamatan Cigudeg mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak sekadar datang untuk mendengarkan materi, tetapi juga diajak memahami bagaimana pemuda dapat menyampaikan aspirasi, membaca persoalan sosial, serta mengambil peran di tengah masyarakat.

Sekolah Advokasi Karang Taruna Cigudeg, Menyalakan Keberanian Pemuda untuk Peduli dan Bersuara

Sekolah Advokasi menjadi ruang belajar bersama. Di sana, keberanian bersuara ditempatkan bukan sekadar sebagai kemampuan menyampaikan kritik, melainkan sebagai tanggung jawab untuk memahami persoalan dan mencari jalan keluar.

Wikal Sungkar, Steering Committee Sekolah Advokasi, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar dan bertukar gagasan.

“Kami berharap kegiatan Sekolah Advokasi ini dapat menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, serta meningkatkan pemahaman dan kapasitas generasi muda dalam memahami pentingnya advokasi,” ujarnya.

Menurut Wikal, peserta perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar agar mampu menyampaikan aspirasi serta mengawal berbagai persoalan sosial secara tepat dan konstruktif.

“Kami ingin membekali para peserta agar memiliki kemampuan dalam memahami persoalan, menyampaikan aspirasi, serta mengambil peran secara aktif dan bertanggung jawab. Generasi muda diharapkan tidak hanya kritis dalam melihat persoalan, tetapi juga mampu memberikan solusi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui cara-cara yang tepat dan konstruktif,” tambahnya.

Bagi Ketua Karang Taruna Kecamatan Cigudeg, Ade Perdana, sekolah advokasi tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial yang selesai ketika acara ditutup.

Lebih jauh dari itu, ia berharap kegiatan tersebut menjadi titik awal tumbuhnya generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

READ  Prabowo Pimpin Sidang Kabinet, Pemerintah Optimistis Ekonomi 2025 Tumbuh di Atas 5 Persen

“Harapan kami, Sekolah Advokasi ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal dari lahirnya generasi muda yang berani bersuara, memiliki kepedulian sosial, memahami hak dan kewajibannya, serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” ungkap Ade.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah. Pemuda bukan hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan sosial yang dapat ikut membaca, mengawal, dan menawarkan solusi atas persoalan di lingkungannya.

Sekolah Advokasi Karang Taruna Cigudeg, Menyalakan Keberanian Pemuda untuk Peduli dan Bersuara

Ade pun berharap para peserta tidak sekadar membawa pulang materi, tetapi juga pengalaman dan keberanian untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut.

«“Semoga seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan semangat, mengambil ilmu sebanyak-banyaknya, serta mampu mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.»

Pada akhirnya, Sekolah Advokasi Karang Taruna Cigudeg bukan semata tentang bagaimana pemuda belajar berbicara.

Lebih dari itu, ia adalah tentang bagaimana keberanian berbicara berjalan bersama kepedulian, pengetahuan, tanggung jawab, dan kesediaan untuk mendengar.

Sebab suara yang lahir dari kepedulian akan jauh lebih bermakna daripada suara yang sekadar ingin terdengar.

Dan perubahan tidak selalu dimulai dari mereka yang memiliki kekuasaan. Kadang, perubahan tumbuh dari anak-anak muda yang memilih untuk tidak diam—mau memahami persoalan, berani menyampaikan aspirasi, dan bersedia bergerak bersama masyarakat.

Dari Cigudeg, langkah kecil itu mulai dinyalakan.***

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakJohn Herdman Panggil 23 Pemain untuk FIFA ASEAN Cup 2026