Beranda Daerah Alih-Alih Inovasi, Pembangunan Lumbung Air di Galuga Tak Berjalan

Alih-Alih Inovasi, Pembangunan Lumbung Air di Galuga Tak Berjalan

Bogor, Publikbicara.com – Pembangunan Lumbung Air di Kampung Bojong RT 13/06 Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor tak kunjung mengalir ke rumah warga. Padahal, proyek tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2016 lalu.

“Pembangunan sudah selesai cuma (Air Bersih) belum tersalurkan ke masyarakat,” kata warga sekitar, Aji Slamet Raharjo kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Mantan Kepala Dusun (Kadus) 04, Desa Galuga itu mengatakan, manfaat dari pembangunan tersebut belum sama sekali dirasakan mulai awal dari pembangunan sampai sekarang ini.

“Saat itu anggaran bantuan dari DLH sekitar 200 juta yang dibangunkan berupa fisik, ada mesin pompa air bor termasuk pipa untuk mengalirkan air,” jelasnya.

Baca Juga :  Berkat Jaro Ade, Partai Golkar Kembali Bangkit Toreh Kejayaan di Kabupaten Bogo

Dia menambahkan, untuk di wilayah RT 13 itu kurang lebih ada 150 Kepala Keluarga (KK). Karena, warga sangat mengharapkan air bersih. Hingga kini warga masih berharap rumahnya bisa teraliri air bersih.

“Saat saya menjabat sebagai Kepala Dusun (Kadus) warga sempat menanyakan air bersih, tapi ternyata hanya prank saja,” cetusnya.

Saat ini, dirinya mengaku, warga memanfaatkan sumber air dari aliran sungai, sedangkan untuk kebutuhan minum beli air galon isi ulang.

“Pada sekitar tahun 2021 Forum Tiga Desa sempat mengajukan untuk air bersih dari PDAM dan alhamdulillah dipasang jaringan sampai ke sana juga, jadi kami saat ini menggunakan Air Pam hasil dari perjuangan Forum Tiga Desa tersebut,” katanya.

Baca Juga :  Yuk Intip Gaji Rt di Setiap Daerah pada Tahun 2024 Berapa?

Sementara itu, Kepala Desa Galuga Endang Sujana membantah, bahwa pembangunan Lumbung Air dibangun bukan anggaran bantuan sumbangan dari DLH, melainkan dari anggaran Dana Desa tahun 2016 dan dibangun dilahan milik pribadi.

“Jadi dulu itu tahun 2016 saya membangun lumbung air itu tujuannya ingin membangun Geopark salah satu inovasi yang ada didalam program Dana desa,” kilahnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, setelah selesai dibangun dan musyawarah dengan masyarakat, ternyata malah menuai pro dan kontra.

“Lmbung air sempat berjalan selama tiga bulan sejak selesai dibangun, dan kamudian kordinasi dengan PDAM ini bagaimana mengakalinya supaya masyarakat mau, ternyata masyarakat susah,” katanya. (Fex/kamel)

Artikulli paraprakKades Cibadak Tetap Siagakan Warga Berikan Bantuan Prokes Meski Kasus Covid-19 Melandai
Artikulli tjetërPeringatan HJB Ke-540 di Leuwiliang, Pemulihan Ekonomi Diprioritaskan