33.6 C
Bogor
Selasa, 24 November 2020

Viral Jenazah Perawat Ditolak, Netizen Naik Pitam

Berita Populer

Mantan Sekdis Mampir Dulu Ke Kantor DPKPP Sebelum Pulang Kerumah

BOGOR - Senin pagi (23/11) terlihat beberapa anggota keluarga dan Kuasa Hukum mantan sekretaris DPKPP, Iryanto yang sudah 9...

Hendak Nyalip, Satu Pengendara Motor Tewas Ditempat

LEUWISADENG - Hendak menyalip sebuah motor mengalami kecelakaan dengan bus Damri di jalan raya Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng pada pukul...

Dinilai Merugikan Konsumen, PLN ULP Leuwiliang di Soal

CIBUNGBULANG- Perusahaan Listrik Negara (PLN) Uunit Layanan Pelanggan (ULP) Leuwiliang tidak tanggung-tanggung meminta kepada salah satu konsumen yang  harus...

Puluhan Ibu-Ibu Datangi Kantor Desa Banyuwangi Pertanyakan BST

CIGUDEG - Puluhan warga keluarga penerima manfaat (KPM) yang didominasi kaum Ibu-ibu datangi kantor Desa Banyuwangi, Kecamatan Cigudeg, pertanyakan...

Tingkatkan Ekonomi Warga Ditengah Pandemi Covid-19, Edot Kembangkan Ternak Ayam Kampung

LEUWISADENG – Berawal dari ketekunan dan kreatifitas, salahsatu warga di Kampung Sinarjaya, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng libatkan para anak...
- Advertisement -

CIBINONG — Derita pilu dirasakan oleh perawat di Indonesia, setelah kejadian penolakan jenazah perawat di Ungaran Semarang Jawa Tengah, Kamis (9/4/2020) lalu.

Akibatnya, banyak netizen yang naik pitam, dan ramai diperbincangkan di media sosial Facebook. Pantauan publikbicara.com melalui media sosial Grup Facebook Suara Perawat tentang penolakan jenazah perawat, salah satunya adalah akun Facebook Al Fatih dalam komentarnya “Diproses aja buat pembelajaran yang lainnya”.

Bahkan, sehari setelah kejadian tersebut, DPW PPNI Jawa Tengah sudah mediasi dengan oknum yang menolak jenazah perawat yang bekerja di RS Kariadi tersebut. Dan pelaku pun sudah meminta maaf.

- Advertisement -

Namun nasi sudah menjadi bubur, walaupun pelaku sudah meminta maaf secara terbuka, masih ada netizen yang belum puas, seperti akun Facebook DwiAri Hdy dalam kolom komentar unggahan yang sama “maaf diterima, proses hukum lanjut, mari kita kawal”.

Dan kabar terkini, oknum pelaku penolakan pun sudah dibawa oleh pihak kepolisian dan dalam proses penyidikan.

Beberapa perawat menyerukan untuk mengenakan pita hitam sebagai tanda penghormatan bagi perawat yang telah gugur melawan Covid-19 dan berduka atas respon masyarakat.

- Advertisement -

Tak hanya jadi perbincangan di dunia maya saja, seorang perawat yang bekerja di Kabupaten Bogor angkat suara.

“Saya sangat prihatin, beberapa kejadian mulai dari yang di usir dari kosannya hingga penolakan pemakaman perawat ini, saya rasa sudah bukan hal yang harus diamkan begitu saja, ,ini sudah menyakiti profesi perawat. Jika perawat sudah menolak melayani pasien yang akan ditangani sehari saja, maka bisa anda bayangkan bagaimana carut marutnya pelayanan kesehatan di rumah sakit”, tegas Dika saat dihubungi (11/4/)

Selain dari kalangan tenaga medis, Rizky MH warga kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor berkomentar, dirinya meminta kejadian penolakan tenaga medis yang sedang ramai serta menjadi perbincangan publik harus disikapi tegas agar tidak terulang lagi.

- Advertisement -

“Cukup menjadi pertama yang terakhir, sikap seperti itu merupakan hal yang tidak pantas dilakukan, tenaga medis yang berada digaris depan merupakan pahlawan yang tak dapat dinilai dengan apapun, mengingat resikonya adalah tukar dengan nyawa. Dan semoga tenaga medis yang masih terus mengamalkan sumpah jabatan, diberi kesehatan dan diparhatikan untuk dilengkapi APD sesuai standar keselamatan prosedur yang ada”. Singkat Rizky.

Sementara itu anggota DPRD kabupaten Bogor Aan Triana Almuharom mengajak warga agar tidak terpengaruh atas masalah ini.

“Masyarakat jangan pernah halangi pemakaman pasien COVID-19 yang meninggal dunia, karena mereka juga manusia, tenang saja sudah ada prosedur pemakamannya sesuai standar kesehatan”. Ujar Aan usai pemberian bantuan APD ke Puskesmas Cigudeg kemarin (10/4).

Seperti diketahui, seorang perawat di RSUP dr Kariadi meninggal karena terinfeksi virus corona baru atau Covid-19 pada Kamis (9/4/2020).

Jenazah perawat itu akan dimakamkan di TPU Sewakul. Tapi, masyarakat setempat menolak karena khawatir dengan penularan virus corona baru atau Covid-19.

Jenazah pasien positif Covid-19 itu pun dimakamkan ke kompleks makam keluarga Dr Kariadi, Bergota, Semarang.

(Edo)

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Berita terbaru

Penemuan Jasad Bayi Diduga Dibuang di Jalan Lingkar Galuga

CIBUNGBULANG - Penemuan Jasad bayi gegerkan warga Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, jasad bayi yang ari -arinya masih menempel diperkirakan...

LBH Bara JP Yakin Kliennya Tidak Terlibat Dalam Kasus OTT DPKPP Kabupaten Bogor.

BOGOR-Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) yang dikomandoi oleh Dinalara Darmawati Butarbutar dan beranggotakan Roynald Pasaribu, Stevie serta Kepler Sitohang...

70 Calon Pilkada Positif Covid-19

Jakarta -- Sebanyak 70 orang calon kepala daerah yang ikut serta dalam Pilkada 2020 dinyatakan positif virus corona (Covid-19) selama menjalani tahapan di tengah...

Ibu Tega Siksa Bayinya Karena Suami Tidak Adil

Jakarta -- Polisi menetapkan seorang ibu berinisial LQ sebagai tersangka karena menyiksa buah hatinya, AJ yang masih berusia 1 tahun 8 bulan. Rekaman penyiksaan...

Tepis Isu Pemotongan RTLH di Desa Tapos Kecamatan Tenjo, Kades angkat Bicara

TENJO - Terkait adanya tudingan terhadap Kepala Desa Tapos, Kecamatan Tenjo Kabupaten Bogor, Ratma Wijaya Menepis dugaan pemotongan dana Rumah Tidak Layak...

Berita Terkait
publikbicara.com