Beranda Ekonomi Pandemi Corona, Harga Minyak Terus Menurun

Pandemi Corona, Harga Minyak Terus Menurun

Jakarta – Harga minyak terus mengalami penurunan, virus corona yang telah menjadi pandemi di seluruh dunia dinilai jadi dalangnya. Bahkan, harga minyak AS anjlok hingga 7% ke level US$ 20,09 atau sekitar Rp 321.440 (dalam kurs Rp 16 ribu) per barel.

Dilansir dari CNN, Selasa (31/3/2020), penurunan harga minyak ke level US$ 20,09 per barel menjadi angka terendah sejak 18 tahun terakhir. Pada sesi terendahnya, bahkan harga minyak sempat menyentuh US$ 19,27 atau sekitar Rp 308.320 per barel.

Minyak mentah Brent, yang digunakan sebagai patokan harga minyak dunia pun anjlok hingga 13% pada sesi terendahnya. Tepatnya ke level US$ 21,65 atau sekitar Rp 346.400 per barel
Baca juga: Industri Hotel Cuma Bisa Bertahan Sampai Bulan Depan, Jika…
Pada penutupan perdagangan minyak Senin, Brent berada di level US$ 22,76 atau sekitar Rp 364.160 per barel, penutupan terendah sejak November 2002.

Baca Juga :  Ini Loh Kisaran Gaji Kepala Desa dan Perangkat Desa di Tahun 2024: dari Kades, Sekretaris Desa, dan Perangkat Desa

Anjloknya harga minyak diketahui disebabkan oleh jumlah permintaan yang merosot di tengah pandemi corona. Banyak negara di dunia mulao melakukan pembatasan jarak sosial. Arus transportasi pun dibatasi, bahkan maskapai penerbangan yang dinilai menggunakan banyak minyak sekali terbang pun mengurangi jadwal.

Di AS saja, Presiden Donald Trump baru saja mengindahkan saran dari para ahli kesehatan untuk memperpanjang program pembatasan jarak sosial federal hingga 30 April.

Baca Juga :  Rapat Pleno Rekapitulasi Penghitungan Suara Sukses Digelar, PAC PKB Kecamatan Cigudeg Angkat Suara

IHS Markit pun memperkirakan bahwa permintaan bensin AS dapat turun sebanyak 4,1 juta barel per hari atau lebih dari 50% konsumsi normal selama periode darurat virus corona.

Sementara itu, konsumsi minyak global diprediksi hanya akan mencapai 12 juta barel per hari pada kuartal I 2020 atau turun 12% dari konsumsi normal. Bank of America menilai hal ini adalah penurunan paling tajam yang pernah tercatat sepanjang sejarah.

Sialnya, pada saat yang sama, Arab Saudi dan Rusia justru melakukan perang harga minyak. Buka halaman berikutnya.

Sumber:Detik.com

Artikulli paraprakPengusaha Kesulitan Bayar THR Tahun Ini Akibat Pandemi Corona
Artikulli tjetërJokowi Perketat WNI Yang Akan Pulang Dari Luar Negeri