Beranda Ekonomi Belajar dari China, Iftitah Dorong AI dan Riset Pertanian untuk Dongkrak Ekonomi...

Belajar dari China, Iftitah Dorong AI dan Riset Pertanian untuk Dongkrak Ekonomi Transmigrasi

Publikbicara.com – Kementerian Transmigrasi mendorong transformasi kawasan transmigrasi melalui penerapan teknologi pertanian, riset berbasis kebutuhan lahan, dan penguatan investasi industri. Langkah tersebut menjadi salah satu fokus Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat mengunjungi Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS), Tiongkok, Rabu (14/10/2026).

Kunjungan itu diarahkan untuk mempelajari penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomasi, serta penelitian pertanian dalam meningkatkan produktivitas dan membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru. Hasil pembelajaran tersebut dinilai relevan bagi pengembangan kawasan transmigrasi di Papua, Sulawesi, dan wilayah lainnya di Indonesia.

Iftitah menegaskan pembangunan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan dan infrastruktur. Pengembangan ekonomi, menurut dia, perlu ditopang riset, penguasaan teknologi, peningkatan keterampilan masyarakat, dan kepastian pasar.

“Kami belajar bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru, langkah tersebut harus berbasis riset dan ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya akan sporadis,” ujar Iftitah.

Di CQAAS, Iftitah mempelajari sistem pertanian cerdas yang mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran melalui teknologi akuaponik. Sistem tersebut memanfaatkan air dari kolam ikan yang telah diolah sebagai sumber nutrisi tanaman, kemudian mengalirkannya kembali dalam satu siklus produksi.

Teknologi AI dan otomasi turut digunakan untuk mendukung pemantauan kondisi budidaya, pengaturan pemberian pakan, dan pengendalian proses produksi. Pendekatan tersebut memungkinkan penggunaan sumber daya yang lebih efisien sekaligus mengurangi sejumlah pekerjaan berulang.

Selain teknologi budidaya, penelitian mengenai karakteristik tanah dan kesesuaian tanaman menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut. Informasi ilmiah mengenai kondisi lahan dinilai penting untuk menentukan komoditas yang tepat bagi setiap kawasan transmigrasi.

Iftitah mengatakan hasil penelitian perlu diteruskan kepada petani agar dapat diterapkan secara langsung dalam kegiatan produksi.

READ  Menteri Transmigrasi Takjub dengan Desa Xujiachong, Tiongkok: Model Keberhasilan Pembangunan Kawasan Transmigrasi 

“Ada intervensi pemerintah dalam bentuk riset yang berjalan setiap bulan, dan hasilnya dibagikan kepada seluruh petani. Mereka juga memiliki pusat penelitian tanah,” ungkapnya.

Menurut dia, penerapan pendekatan serupa di Indonesia harus mempertimbangkan perbedaan karakteristik tanah, iklim, potensi komoditas, dan kemampuan masyarakat setempat. Penggunaan teknologi juga perlu disertai peningkatan kapasitas transmigran dan masyarakat lokal agar inovasi yang diperkenalkan dapat dioperasikan serta dipelihara secara berkelanjutan.

Selain mempelajari teknologi, Iftitah mendorong penguatan kerja sama investasi Indonesia-Tiongkok, terutama untuk mengembangkan sektor pertanian di Papua dan membuka peluang usaha di sektor potensial lainnya.

Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, mengenai peluang kerja sama di bidang pertanian dan pariwisata.

“Saya sudah berdiskusi dengan Duta Besar Wang Lutong, dan kami berdua sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang pertanian di Papua, serta industri lain seperti pariwisata,” katanya.

Iftitah menilai kolaborasi tersebut dapat mempertemukan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, pengalaman industri, investasi, dan akses pasar dari Tiongkok.

Salah satu komoditas yang disorot adalah durian, yang dinilai memiliki peluang pengembangan di Sulawesi untuk memenuhi permintaan pasar internasional, termasuk Tiongkok.

“Tiongkok membutuhkan banyak durian. Anda bisa membawa investasi ke Indonesia, menanam durian di negara kami, misalnya di Sulawesi, dan mari kita nikmati durian tersebut bersama-sama,” ujar Iftitah.

Ia menekankan investasi perlu diarahkan tidak hanya pada produksi komoditas, tetapi juga pengembangan industri pengolahan, penyimpanan, dan rantai pasok. Dengan demikian, nilai tambah ekonomi dapat tercipta di daerah penghasil dan membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Iftitah juga menyoroti pentingnya transfer pengetahuan dan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku usaha lokal dalam setiap kegiatan investasi.

READ  Persib Bandung Kantongi Lisensi AFC, Bukti Konsistensi Klub Profesional

Di dalam negeri, Kementerian Transmigrasi juga mendorong pemanfaatan potensi lahan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat di kawasan yang sedang berkembang.

Salah satu peluang yang disebut Iftitah adalah pengembangan pertanian dan agroforestri di kawasan transmigrasi Barelang, khususnya Rempang, Kota Batam. BP Batam dan Pemerintah Kota Batam disebut telah menawarkan sekitar 25 hektare lahan untuk dimanfaatkan sementara bagi kegiatan pertanian masyarakat sebelum pengembangan industri dilaksanakan.

Lahan tersebut berpotensi dikaji untuk kegiatan pembibitan dan pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi setempat. Pemanfaatannya diharapkan dapat mendukung sumber penghidupan masyarakat selama proses pembangunan kawasan berlangsung.

Selain pertanian, Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan ekonomi perikanan dan kelautan melalui kolaborasi lintas kementerian, termasuk dukungan kapal bagi masyarakat pesisir.

Iftitah menilai pendekatan pembangunan harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan, dengan tetap berorientasi pada penciptaan kegiatan ekonomi produktif dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pembelajaran dari Tiongkok juga memperkuat pandangan Iftitah mengenai pentingnya menghubungkan pendidikan, industrialisasi, dan konsumsi dalam pembangunan ekonomi.

Pendidikan dan penelitian diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia serta produktivitas. Industrialisasi berperan menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja, sedangkan akses pasar menjadi penentu keberlanjutan kegiatan produksi.

“Pendidikan adalah kunci pembangunan. Kedua, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan melalui industrialisasi. Ketiga, yang baru saya pelajari dari kunjungan ini, adalah mengenai konsumsi,” kata Iftitah.

Menurut dia, peningkatan produksi pertanian harus diikuti kepastian penyerapan hasil, baik melalui industri pengolahan dalam negeri maupun perdagangan internasional. Tanpa dukungan pasar, kenaikan produksi belum tentu berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani.

Karena itu, transformasi kawasan transmigrasi diarahkan untuk menghubungkan lahan, tenaga kerja, penelitian, teknologi, investasi, industri, dan pasar dalam satu ekosistem ekonomi.

READ  Dongan Sukses Nyalakan Prototipe Mesin Rotary R05E

Penerapan teknologi dan model pembangunan dari Tiongkok tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, kebutuhan masyarakat, kesiapan infrastruktur, serta kelayakan ekonomi setiap kawasan.

Iftitah berharap pembelajaran dari Chongqing dan penjajakan kerja sama dengan mitra Tiongkok dapat mendukung pengembangan pertanian modern serta industri berbasis potensi daerah di Indonesia.

“Jika kita konsisten, kita tidak akan kalah dengan produk-produk dari luar negeri,” pungkasnya.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakLuthfi/Dian Juara BWF World Junior 2026
Artikulli tjetërErick Thohir Saksikan Laga Pembuka IWL 2026