Beranda Ekonomi Di Tengah Demam Investasi Emas, Industri Perhiasan Nasional Tetap Tunjukkan Taring

Di Tengah Demam Investasi Emas, Industri Perhiasan Nasional Tetap Tunjukkan Taring

Publikbicara.com – Tren kenaikan harga logam mulia yang mendorong minat masyarakat berinvestasi pada emas batangan dinilai belum mengancam keberlangsungan industri perhiasan nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini sektor ini tetap memiliki prospek kuat berkat fungsi ganda perhiasan sebagai instrumen investasi sekaligus produk fesyen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, lonjakan harga emas memang membuat logam mulia semakin diminati sebagai aset investasi. Namun, perhiasan tetap memiliki pasar tersendiri karena menawarkan nilai tambah yang tidak dimiliki emas batangan.

“Perhiasan tidak hanya berfungsi sebagai investasi, tetapi juga dapat digunakan sebagai aksesori dan koleksi. Karena itu, permintaannya diyakini akan tetap ada,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Jumat (29/5).

Data World Gold Council menunjukkan permintaan emas batangan global mencapai 1.402 ton sepanjang 2025, meningkat 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.208 ton. Di Indonesia, konsumsi perhiasan emas tercatat menurun dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.

Meski demikian, penurunan konsumsi tersebut belum berdampak signifikan terhadap performa industri perhiasan nasional. Kemenperin mencatat nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga justru tumbuh 64,72 persen pada 2025, dari US$5,5 miliar menjadi US$9,1 miliar.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menjelaskan sebagian besar pelaku industri kecil dan menengah (IKM) masih memilih fokus mengembangkan usaha perhiasan dibanding beralih ke bisnis logam mulia.

Menurut data BPS dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), saat ini terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia yang terdiri atas 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil. Industri tersebut juga menyerap lebih dari 21 ribu tenaga kerja.

READ  Eksploitasi Isu Negatif, Media Berpotensi Ciptakan ‘Copycat Crime’ di Indonesia

“Pasar perhiasan masih cukup kuat, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor,” kata Reni.

Ia menambahkan, daya saing industri perhiasan Indonesia terletak pada kreativitas desain serta kekayaan budaya lokal yang menjadi ciri khas produk nasional di pasar internasional. Selain itu, pelaku usaha dinilai memiliki fleksibilitas untuk berinovasi menggunakan berbagai jenis material sesuai kondisi pasar.

Sementara itu, Direktur Industri Aneka Ditjen IKMA, Reny Meilany, menilai masyarakat masih memiliki banyak pilihan untuk berinvestasi melalui perhiasan emas dengan kadar dan gramasi yang lebih beragam.

“Perhiasan emas dengan ukuran kecil dan desain menarik tetap menjadi pilihan karena dapat digunakan sekaligus disimpan sebagai aset investasi,” ujarnya.

Di sisi lain, pelaku industri mengakui tren investasi logam mulia mulai memengaruhi strategi bisnis perusahaan besar. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia, Iskandar Husin, mengatakan sejumlah perusahaan kini mulai menyeimbangkan portofolio antara produk perhiasan dan produk investasi.

 

Namun, bisnis logam mulia dinilai tidak mudah dimasuki karena membutuhkan modal besar, reputasi yang kuat, serta pengelolaan risiko yang ketat.

Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), Eddy Yahya, menegaskan bahwa tidak semua perusahaan perhiasan siap merambah sektor logam mulia. Selain membutuhkan kepercayaan pasar, bisnis tersebut juga menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku yang sangat dinamis.

Untuk menjaga daya saing industri, Kemenperin terus memperkuat ekosistem perhiasan nasional melalui berbagai program pembinaan, promosi, pelatihan ekspor, hingga peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

Dengan dukungan tersebut, pemerintah optimistis industri perhiasan nasional tetap mampu tumbuh dan menjadi salah satu sektor manufaktur yang berkontribusi besar terhadap ekspor serta penyerapan tenaga kerja di tengah meningkatnya tren investasi emas.(Red).

READ  Wamenkeu Thomas Bahas Stabilitas Ekonomi Global dengan PM Singapura Lawrence Wong

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakPresiden Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Rampungkan Misi Diplomasi Strategis di Prancis
Artikulli tjetërAlwi Farhan Tembus Semifinal Singapore Open 2026, Catat Sejarah Baru di Level Super 750