Ilustrasi SPBU di Australia. Foto: Doc. SBS.
Publikbicara.com – Lonjakan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara besar-besaran atau panic buying melanda Australia, memicu gangguan distribusi hingga ratusan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kehabisan stok.
Dilansir dari Detik Oto yang mengutip The Independent, data terbaru menunjukkan pembelian BBM meningkat hingga 400 persen dibandingkan kondisi normal. Dampaknya, sedikitnya 608 SPBU dilaporkan kosong, atau sekitar 8 persen dari total 7.798 SPBU yang tersebar di seluruh Australia.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan situasi ini dipicu tekanan global, termasuk dampak konflik internasional terhadap rantai pasok energi.
Namun, ia menegaskan bahwa ketersediaan BBM nasional sebenarnya masih mencukupi.
“Kami memahami masyarakat berada di bawah tekanan. Namun dengan pola pembelian normal, pasokan saat ini cukup,” ujar Albanese, Sabtu (28/3).
Pemerintah juga memastikan tambahan pasokan sedang dalam perjalanan. Sedikitnya enam kapal tanker bahan bakar jet dari China dijadwalkan tiba dalam waktu dekat untuk memperkuat distribusi.
Sementara itu, Menteri Energi Chris Bowen mengakui adanya kekurangan nyata di sejumlah wilayah, terutama daerah regional. Ia menilai lonjakan permintaan yang tidak terkendali menjadi faktor utama terganggunya distribusi.
“Kami melihat peningkatan permintaan yang sangat drastis. Pemasok juga memprioritaskan konsumen yang memiliki kontrak,” kata Bowen.
Wilayah New South Wales (NSW) menjadi daerah paling terdampak, dengan 314 SPBU terpaksa ditutup akibat kehabisan stok. Kondisi serupa juga mulai terjadi di Australia Barat.
Pemerintah Australia kini terus mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan guna menjaga stabilitas pasokan dan mencegah krisis yang lebih luas.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













