Publikbicara.com – Penguatan sektor akuakultur menjadi salah satu agenda yang dibahas Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) Qu Dongyu dalam pertemuan di sela Committee on Fisheries (COFI) ke-37 di Roma, Italia.
Pertemuan tersebut membahas peluang peningkatan kerja sama Indonesia dan FAO di bidang perikanan budidaya. Pengembangan akuakultur dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan konsumsi pangan bergizi, sekaligus membuka peluang pendapatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Qu menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas perikanan dan hasil laut bernilai ekonomi tinggi yang memiliki peluang di pasar internasional.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia juga dinilai memiliki posisi penting dalam agenda ketahanan pangan dan perbaikan gizi global.
“Ketahanan pangan dan gizi di Indonesia bukan hanya isu nasional, tetapi juga bagian penting dari agenda global. Keberhasilan Indonesia akan menjadi kontribusi besar bagi dunia,” kata Qu, sebagaimana dikutip dari rilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Rabu (16/9).
Menurut Qu, pembangunan akuakultur secara berkelanjutan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas penangkapan ikan di alam.
Selain meningkatkan pasokan protein hewani, budidaya perikanan dinilai berpotensi membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya laut dan memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat.
Qu juga membagikan pengalaman sejumlah negara yang berhasil mengalihkan sebagian nelayan skala kecil ke sektor akuakultur. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kelembagaan, pemanfaatan teknologi budidaya, serta pengembangan model usaha berbasis kemitraan dan investasi bersama.
Pengalaman itu, menurut Qu, dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia dalam meningkatkan efisiensi produksi, pendapatan masyarakat pesisir, dan keberlanjutan sumber daya kelautan.
Dalam pertemuan itu, FAO juga menyampaikan pengalaman internasional mengenai kebijakan peningkatan kapasitas petani dan nelayan. Langkah tersebut mencakup pelatihan, pengendalian penyakit, pengembangan teknologi, hingga pemberdayaan perempuan dan generasi muda.
Sementara itu, Menteri Trenggono menegaskan komitmen Indonesia mempercepat transformasi sektor kelautan dan perikanan. Fokusnya antara lain memperkuat perikanan budidaya, meningkatkan produktivitas masyarakat pesisir, serta menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya kelautan.
Pembahasan Indonesia dan FAO tidak hanya mencakup perikanan dan akuakultur. Pengelolaan sumber daya air juga menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan keberlangsungan sistem pangan.
Kedua pihak sepakat memperkuat kemitraan strategis untuk mendukung pembangunan sektor kelautan, perikanan, pangan, dan sumber daya air yang produktif, inklusif, serta berkelanjutan, baik untuk kepentingan Indonesia maupun dalam konteks agenda global.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












