Beranda Nasional BRIN Siapkan NEO-1, Satelit Generasi Keempat Indonesia Ditargetkan Meluncur 2027

BRIN Siapkan NEO-1, Satelit Generasi Keempat Indonesia Ditargetkan Meluncur 2027

BRIN dan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) tengah mengembangkan Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1). Foto: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Indonesia bersiap memasuki babak baru pengembangan teknologi satelit nasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) tengah mengembangkan Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang ditargetkan meluncur pada awal 2027.

Satelit generasi keempat tersebut kini telah memasuki tahap pengujian dan integrasi. Kehadiran NEO-1 menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam membangun sekaligus memanfaatkan teknologi dan data satelit untuk berbagai kebutuhan di dalam negeri.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, mengungkapkan perkembangan tersebut saat menerima kunjungan siswa SMPIT Leuwiliang di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, Rabu (12/8).

Menurut Salma, perjalanan pengembangan satelit nasional telah dimulai melalui tiga satelit sebelumnya, yakni LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, LAPAN-A2/LAPAN-ORARI, dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB.

LAPAN-A1 menjadi tonggak awal pengembangan satelit eksperimental oleh periset Indonesia. Satelit generasi pertama itu dikembangkan melalui kerja sama dengan Universitas Teknik Berlin dan proses rancang bangunnya dilakukan di Jerman.

Satelit yang mengorbit secara polar tersebut memiliki misi utama observasi Bumi dan melintasi wilayah Indonesia sekitar empat hingga enam kali setiap hari.

LAPAN-A1 diluncurkan menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India pada 10 Januari 2007. Meski sejak awal diperkirakan hanya mampu beroperasi selama dua hingga tiga tahun, satelit tersebut hingga kini masih dapat menerima perintah dari operator.

“Meski muatan kameranya sudah tidak berfungsi, satelit ini masih dapat menerima perintah. Satelit ini telah melampaui usia operasional yang diprediksi,” kata Salma dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (15/8).

Pengembangan kemudian berlanjut melalui LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Berbeda dengan pendahulunya, satelit generasi kedua ini dirancang dan dibangun sepenuhnya di dalam negeri melalui kerja sama periset Indonesia dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).

READ  BRIN: Teknologi Iradiasi Jadi Kunci Kurangi Food Loss dan Dongkrak Ekspor Pertanian

LAPAN-A2 diluncurkan menggunakan roket PSLV C30 pada 28 September 2015 dan hingga kini masih beroperasi.

Satelit tersebut tidak hanya digunakan untuk observasi Bumi melalui kamera spacecam. LAPAN-A2 juga membawa misi mitigasi bencana melalui voice repeater (VR) dan automatic packet reporting system (APRS), serta memantau pergerakan kapal menggunakan automatic identification system (AIS).

Untuk misi komunikasi dan mitigasi bencana, sistem yang dibawa LAPAN-A2 juga dapat dimanfaatkan anggota ORARI yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Setahun kemudian, Indonesia kembali meluncurkan satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB. Satelit yang dikembangkan bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) itu meluncur menggunakan roket PSLV C34 pada 22 Juni 2016 dan hingga kini masih berfungsi.

LAPAN-A3 memiliki kemampuan pemantauan kapal melalui AIS dengan cakupan data yang lebih luas hingga skala global. Satelit tersebut juga membawa kamera multispektral untuk memantau vegetasi, spacecam untuk observasi Bumi, serta magnetometer untuk mengamati medan magnet Bumi.

Pengoperasian satelit-satelit tersebut didukung sejumlah stasiun bumi BRIN yang berada di Rancabungur, Bogor, Kototabang, Sumatera Barat, Parepare, Sulawesi Selatan, serta Biak, Papua.

Kini, pengalaman dari tiga generasi satelit tersebut menjadi pijakan bagi pengembangan NEO-1.

Salma mengatakan NEO-1 akan difokuskan untuk observasi Bumi dengan menyediakan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah. Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, hingga pengawasan lingkungan.

Tak hanya itu, data NEO-1 juga diproyeksikan mendukung mitigasi bencana serta pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS.

“Satelit terbaru yang saat ini sedang dikembangkan adalah NEO-1. Saat ini, satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi,” ujar Salma.

Pengembangan NEO-1 sekaligus menunjukkan arah penguasaan teknologi satelit Indonesia yang terus berkembang. Dari satelit eksperimental yang dibangun melalui kerja sama internasional, kemampuan tersebut perlahan berkembang menuju pembangunan satelit yang semakin mengandalkan kapasitas peneliti dan teknologi dalam negeri.

READ  BRIN Ungkap Tahapan Rumit Pembuatan Satelit, NEO-1 Disiapkan untuk Observasi Bumi

BRIN menempatkan pengembangan NEO-1 sebagai salah satu bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional. Selain menghasilkan teknologi, satelit tersebut diharapkan memperluas pemanfaatan data penginderaan jauh untuk mendukung kebutuhan pembangunan di berbagai sektor.

Dengan target peluncuran pada awal 2027, NEO-1 akan menjadi generasi terbaru dalam perjalanan panjang satelit nasional Indonesia.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakImigrasi Deportasi WN Lithuania, Diduga Kelola Konten Berbayar The Bali Dream
Artikulli tjetërGempa M6,4 Guncang Simalungun, Getaran Terasa hingga Tebingtinggi dan Kabanjahe