Ilustrasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Foto: Kemenkes.
Publikbicara.com – Merasa sehat ternyata belum tentu berarti terbebas dari penyakit. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan sekitar satu juta kasus baru hipertensi pada peserta yang setahun sebelumnya masih tercatat tidak mengalami tekanan darah tinggi.
Temuan itu berasal dari pemeriksaan ulang terhadap 9,2 juta peserta Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 yang pada pemeriksaan tahun sebelumnya belum terdeteksi mengalami hipertensi.
Data tersebut disampaikan Kemenkes dalam Media Briefing Evaluasi, Capaian, dan Langkah Strategis Program Cek Kesehatan Gratis di Jakarta, Selasa (4/8).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, hasil tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk bagi masyarakat yang tidak merasakan keluhan apa pun.
Menurutnya, banyak penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes, dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Kondisi itu membuat seseorang kerap baru mengetahui penyakitnya setelah memasuki tahap yang lebih serius.
“Melalui Cek Kesehatan Gratis, kita berharap penyakit dapat ditemukan lebih cepat sehingga segera ditangani. Jangan menunggu sampai muncul keluhan atau komplikasi,” ujar Budi dikutip dari laman resmi Kemenkes, Rabu (5/8).
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menegaskan bahwa kondisi kesehatan seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, hasil pemeriksaan yang baik pada satu tahun tidak dapat dijadikan jaminan bahwa kondisi kesehatan akan tetap sama pada tahun berikutnya.
“Pesannya sederhana, lakukan Cek Kesehatan Gratis setiap tahun. Hasil pemeriksaan yang baik pada tahun lalu bukan berarti kondisi kesehatan kita tetap sama pada tahun ini,” kata Endang.
Perubahan kondisi juga terlihat pada kelompok peserta yang sebelumnya masuk kategori prehipertensi. Dari 1,3 juta peserta prehipertensi yang menjalani pemeriksaan ulang, sebanyak 247 ribu orang telah berkembang menjadi hipertensi.
Pola serupa ditemukan pada diabetes. Dari 8,3 juta peserta yang diperiksa ulang, sebanyak 188 ribu orang terdeteksi mengalami diabetes baru. Sementara dari kelompok peserta dengan prediabetes, sebanyak 16 ribu orang berkembang menjadi diabetes.
Meski demikian, pemeriksaan berkala juga menunjukkan hasil positif dalam pengendalian penyakit. Dari 2,4 juta penderita hipertensi yang kembali menjalani pemeriksaan, sebanyak 1,1 juta orang berhasil mencapai tekanan darah dalam rentang normal.
Pada peserta dengan diabetes, sebanyak 235 ribu orang berhasil mengendalikan kondisinya dari total 340 ribu penderita yang menjalani pemantauan ulang.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan, proses CKG tidak semata-mata mengandalkan pemeriksaan laboratorium atau pengukuran fisik. Setiap peserta terlebih dahulu menjalani anamnesis untuk menggali keluhan, riwayat penyakit, serta faktor risiko yang dimiliki.
Hasil anamnesis tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan apakah peserta membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau layanan kesehatan tertentu.
“Anamnesis membantu menentukan apakah seseorang memerlukan pemeriksaan lanjutan dan jenis layanan yang sesuai. Dengan begitu, penanganan dapat diberikan lebih tepat sasaran,” ujar Dante.
Pakar kesehatan masyarakat dr. Iwan Ariawan menilai pemeriksaan hanya menjadi langkah awal. Manfaat CKG akan lebih besar apabila hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dengan perubahan perilaku, pengobatan, maupun rujukan medis ketika diperlukan.
Kemenkes pun mendorong masyarakat memanfaatkan layanan CKG di Puskesmas terdekat dan tidak menjadikan kondisi tubuh yang terasa sehat sebagai alasan untuk menunda pemeriksaan.
Program pemeriksaan berkala juga didorong untuk diperluas ke lingkungan sekolah agar kondisi kesehatan anak dapat dipantau sejak dini.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













