Beranda Ekonomi Depok Andalkan Maggot untuk Pangkas Sampah, DLHK Targetkan 5 Ton Organik Terolah...

Depok Andalkan Maggot untuk Pangkas Sampah, DLHK Targetkan 5 Ton Organik Terolah per Hari

Program budidaya maggot di Kota Depok. Dok: bogor24jam.

Publikbicara.com – Pemerintah Kota Depok terus mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.

Salah satu langkah yang kini diperkuat adalah pengolahan sampah organik menggunakan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF), yang dinilai mampu mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

Melalui sejumlah Unit Pengelolaan Sampah (UPS), program budidaya maggot saat ini telah mampu mengolah sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik setiap hari.

Capaian tersebut menjadi fondasi awal bagi Pemerintah Kota Depok untuk meningkatkan kapasitas pengolahan hingga 5 ton per hari di setiap UPS yang menjalankan program serupa.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengatakan pemanfaatan maggot tidak hanya berfungsi mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.

“Pengolahan sampah organik melalui maggot sudah memberikan kontribusi dalam mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Ke depan kapasitasnya akan terus kami tingkatkan,” ujar Reni dikutip dari bogor24jam, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas sampah yang diterima. Karena itu, DLHK terus mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah agar sampah organik yang masuk ke UPS tidak tercampur dengan limbah anorganik maupun residu lainnya.

Langkah tersebut menjadi kunci dalam menjaga efektivitas budidaya maggot. Sampah organik yang bersih dapat diolah secara optimal menjadi pakan ternak, pupuk organik, hingga berbagai produk pendukung ekonomi sirkular yang ramah lingkungan.

Selain fokus meningkatkan kapasitas pengolahan yang ada, Pemkot Depok juga mulai mengantisipasi potensi peningkatan volume sampah organik dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

READ  Jaro Ade Wakili Bupati Bogor dalam Sarasehan Kebangsaan: Dorong Kemandirian Fiskal Daerah

Sisa makanan yang dihasilkan dari program tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pakan maggot apabila dikelola secara tepat.

Di sisi lain, pengembangan budidaya maggot masih menghadapi sejumlah tantangan. Pengelolaan larva BSF membutuhkan keterampilan dan pengawasan yang konsisten karena organisme tersebut sangat dipengaruhi kondisi lingkungan, kualitas pakan, serta kestabilan pasokan bahan organik.

Apabila bahan baku tidak tersedia secara berkelanjutan atau tercemar zat berbahaya, pertumbuhan maggot dapat terganggu dan berdampak pada produktivitas pengolahan sampah.

Karena itu, DLHK berkomitmen memperkuat pelatihan dan pendampingan bagi pengelola UPS, komunitas lingkungan, hingga kelompok masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan sistem pengolahan berjalan optimal dan mampu berkembang menjadi gerakan bersama dalam pengurangan sampah perkotaan.

Di tengah meningkatnya produksi sampah setiap tahun, Pemkot Depok melihat budidaya maggot bukan sekadar teknologi pengolahan limbah, melainkan bagian dari transformasi pengelolaan sampah yang mengedepankan prinsip ekonomi sirkular.

Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakSafari Jurnalis PWI Bogor Sambangi Sukajaya, Perkuat Literasi Media hingga Tingkat Desa
Artikulli tjetërFajar/Fikri Langsung Tersingkir, Pertahanan Solid Ganda China Jadi Pembeda