BRIN terus berupaya memperkuat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Dok: Humas BRIN.
Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyalurkan pendanaan sekitar Rp2 triliun untuk mendukung 1.600 judul penelitian melalui Dana Abadi Penelitian yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sepanjang periode 2022 – 2025.
Pendanaan tersebut digunakan untuk membiayai berbagai penelitian di bidang pangan, kesehatan, energi, hingga sosial humaniora yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan sebagian besar riset yang didanai memberikan kontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada tujuan ke-9 yang berkaitan dengan industri, inovasi dan infrastruktur.
“Jika dipetakan terhadap 17 tujuan SDGs, sebagian besar riset yang didanai berkontribusi pada tujuan ke-9, yakni industri, inovasi, dan infrastruktur,” katanya dalam kegiatan BRIN-UNDP Working Session bertajuk Identifying Priority Areas for Collaboration to Accelerate SDGs Implementation, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta seperti dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (3/6).
Menurutnya, capaian pendanaan riset tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama pada sektor-sektor strategis yang mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk ekonomi biru dan energi.
BRIN, lanjut Arthur, tengah mengembangkan berbagai model bisnis dan skema pendanaan riset guna memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta mitra internasional. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan partisipasi sektor swasta yang hingga kini dinilai masih memiliki kontribusi rendah dalam belanja riset nasional.
Selain memperluas kolaborasi, BRIN juga mengubah arah penelitian agar lebih berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, dunia usaha, dan kebutuhan pembangunan nasional.
“Riset tidak lagi berbasis science for science, tetapi harus mampu menjawab permasalahan masyarakat, industri, maupun kebutuhan nasional,” ujarnya.
Dalam upaya memperkuat ekosistem penelitian, BRIN telah mendukung pembentukan 35 Pusat Kolaborasi Riset (PKR) yang melibatkan 16 perguruan tinggi di berbagai daerah. Pusat-pusat tersebut dikembangkan sebagai pusat unggulan penelitian dengan tema spesifik, salah satunya ekologi mangrove.
Ke depan, PKR diharapkan menjadi simpul kerja sama internasional yang mampu menarik peneliti, akademisi, profesor tamu, hingga peneliti pascadoktoral dari berbagai negara untuk berkolaborasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di Indonesia.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













