Beranda News BRIN Genjot Riset Genetika Kepiting Bakau

BRIN Genjot Riset Genetika Kepiting Bakau

Ilustrasi Kepiting Bakau. Dok: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemuliaan genetika kepiting bakau melalui metode interspecific hybridization atau persilangan antarspesies. Langkah ini dilakukan untuk menghasilkan benih unggul sekaligus mengatasi persoalan ketidakstabilan pasokan benih yang selama ini masih menjadi tantangan utama industri budidaya kepiting bakau di Indonesia.

Riset tersebut dipaparkan dalam Sharing Session Zoopedia Series #19 yang diselenggarakan Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kamis (18/6). Kegiatan ini mempertemukan peneliti, akademisi, dan pelaku industri budidaya dari Indonesia dan Malaysia.

Kepala PRZT BRIN, Delicia Y. Rahman, mengatakan kepiting bakau merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang memerlukan pengelolaan berbasis riset agar pemanfaatannya tetap berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan budidaya tidak hanya dipengaruhi kualitas lingkungan, tetapi juga kualitas genetik induk dan program pemuliaan yang tepat.

“Kelompok Riset Genetika Fauna Akuatik BRIN secara konsisten melakukan berbagai kegiatan ilmiah guna mendukung keberlanjutan ekosistem perairan,” ujar Delicia dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (28/6).

Ia menambahkan, forum tersebut juga menjadi wadah memperkuat kolaborasi riset internasional serta mendorong sinergi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan sektor industri.

Sementara itu, Peneliti PRZT BRIN Muhammad Nur Syafaat menjelaskan bahwa metode interspecific hybridization merupakan teknik persilangan dua spesies berbeda untuk menghasilkan keturunan dengan karakter unggul, seperti pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan lebih baik, dan ketahanan terhadap penyakit.

Namun, menurutnya, penerapan teknologi tersebut harus dilakukan secara terkendali agar tidak menimbulkan dampak ekologis apabila individu hasil persilangan terlepas ke habitat alami.

“Hibridisasi tidak boleh dilakukan sembarangan. Kontrol yang ketat sangat diperlukan agar varietas hibrida tidak terlepas ke alam dan mengganggu kelestarian populasi asli,” ujarnya.

READ  BRIN Gandeng Bank Mandiri, Perkuat Layanan Payroll dan Transformasi Digital

Nur mengungkapkan, hingga kini industri budidaya kepiting bakau masih bergantung pada benih yang diperoleh dari alam akibat belum stabilnya produksi benih hasil pembenihan. Kondisi tersebut dinilai menjadi hambatan dalam meningkatkan produksi budidaya secara berkelanjutan.

Melalui program pemuliaan yang terkontrol, BRIN menargetkan lahirnya benih kepiting bakau unggul yang mampu tumbuh lebih cepat, lebih efisien dalam penggunaan pakan, sekaligus tetap menjaga kelestarian populasi kepiting bakau di alam.

Selain memaparkan hasil riset BRIN, kegiatan tersebut juga menghadirkan akademisi dari Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology, Malaysia, Amin Safwan Adnan. Dalam presentasinya, ia menekankan bahwa kualitas air menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya kepiting bakau serta berbagi praktik budidaya yang diterapkan di Malaysia.

Melalui penguatan riset genetika, pengembangan teknologi pemuliaan, dan kolaborasi internasional, BRIN berharap inovasi di bidang budidaya kepiting bakau dapat meningkatkan produktivitas perikanan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya hayati perairan Indonesia.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakWarga Meriahkan Jalan Sehat HUT Bhayangkara ke-80 Polsek Cigudeg
Artikulli tjetërPersib Resmi Berpisah dengan Rezaldi Hehanussa