Beranda Bogor Raya Sandal Kalong II Bertahan di Tengah Gempuran Persaingan

Sandal Kalong II Bertahan di Tengah Gempuran Persaingan

Leuwisadeng,- Industri kerajinan sandal karet di Desa Kalong II, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor masih bertahan di tengah gempuran persaingan.

Saat ini sedikitnya ada 20 warga yang masih aktif dalam pembuatan sandal karet berbahan dasar limbah ban di Desa Kalong II ini.

Mang Emong (55) salah satunya, selain pengrajin ia pun mengecer sandal kalong dengan cara berkeliling ke berbagai daerah di Kabupaten Bogor hingga ke wiliayah ibu kota jakarta.

Sendal kesehatan berbahan dasar ban bekas

“Sebelum saya lahir, kerajinan sandal ini memang sudah ada, bisa dikatakan ini adalah warisan pendahulu kami. Kalau untuk pembuatan sih bisa sampai 40 pasang sandal perhari” ungkap bapak dari tiga anak ini, Rabu, (01/04/2020)

Baca Juga :  Diduga Korsleting Listrik, Dua Rumah Terbakar di Tenjo Bogor

Di tempat yang sama Jaenal (40) salah satu warga yang berprofesi sebagai pedagang yang mengecer sandal karet khas Desa Kalong II ini mengaku, biasa menjual dengan harga Rp.25000,- sampai dengan Rp.45000,- perpasang tergantung jenis nya, ada sandal biasa, super ban dan sandal kesehatan.

“Keliling aja pak, Jabodetabek kalo masalah ngejual juga kan relatif tergantung jenis sandalnya,” pungkas jaenal.

Secara terpisah Heri Faris Kamil warga Desa Kalong II yang juga sebagai pemerhati sandal unik ini mengatakan, untuk menarik minat pembeli pihaknya terus berupaya berinovasi untuk memodifikasi dari sandal tradisional hingga menjadi sandal kesehatan

Baca Juga :  PN Tangerang Mengesahkan Nikah Beda Agama

“Varian terbaru ini di atas nya ada gerigi-gerigi nya dan saat ini konsumen sangat antusias dengan jenis seperti ini” Katanya.

Heri menjelaskan, permasalahan yang di hadapi baik dari pengrajin maupun warga yang menjajakan sandal Kalong ini terkendala modal dan bahan baku, kendati demikian pihaknya terus berupaya membantu baik modal hingga penjualan melalui online.

“Jika online kita bisa jual secara eceran ataupun grosiran, sebetulnya permintaan mah banyak, cuma ya itu tadi (modal-red), kami berharap adanya bantuan dari pemerintah baik itu modal maupun berupa pelatihan-pelatihan agar warisan leluhur ini tetap bertahan” jelasnya.

(Fahri)

Artikulli paraprakAzis Gagap Tinggalkan OVJ, Ingin Fokus di Pesantren Miliknya
Artikulli tjetërPemkab Bogor Tidak Serius Menangani Korban Pengungsian Bencana Alam

Tinggalkan Balasan