Selain Tenda Darurat, Sekolah Darurat Ikut Dibangun

Berita Populer

- Advertisement -

Sukajaya-Sebuah tenda berdiri di pinggir jalan yang masih merah. “Sekolah darurat” begitu tulisan yang terpampang dalam spanduk yang dipasang di tenda oranye.

Rupanya sejak longsor menerjang Sukajaya, tak Cuma tenda darurat yang dibangun. Sekolah darurat juga dibangun dan masih bertahan sampai saat ini.

Aas sumringah melihat berlalu, Muhammad Yusuf Al Furqan, mengambil pelajaran di Sekolah Darurat Kampung Wates.

- Advertisement -

Aas mengintip dari balik jaring-jaring yang dibuat dari kawat dan difungsikan sebagai dinding-dinding kelas. Di bawah kelas beratapkan terpal berwarna oranye itu, Yusuf bersama kawan-kawannya belajar berhitung.

“Dari tahun kemarin, saya sudah berniat mendaftarkan anak saya di PAUD di bawah kampung, bahkan sudah penuh. Letaknya sekitar 2 kilometer menuruni jalan. Tapi awal tahun ini jalannya tertutup, jadi batal, ”kisah Aas.

Kampung Wates, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor merupakan salah satu desa yang terdampak kompilasi hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Jabodetabek pada pergantian tahun lalu.

- Advertisement -

Setelah hujan itu, mereka lalu melewati dua hari dengan longsor yang terjadi berulang kali di berbagai titik di sekitar desa.

“Jadi satu hari itu kita bisa mendengar ada beberapa kali bunyi longsor. Bunyinya suka gemuruh begitu, ”kata Dodi, salah satu warga.

Di hari kedua bencana, warga sadar di jalan bagian atas maupun bawah desa, tertimbun longsor hingga tertutup sama sekali.

- Advertisement -

Warga berhasil. Jalan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki, itu pun dengan kondisi tanah karena masih rawan longsor.

Pada 6 Januari lalu, Dodi dan warga sekitar mendirikan Sekolah Darurat Kampung Wates, mengingat jalan ke sekolah belum dapat diakses. Ide untuk menyusun sekolah ini sebenarnya sudah pernah tercetus sebelum bencana.

“Beberapa bulan sebelum bencana, masyarakat setuju untuk maju. Kemajuan masyarakat ini menciptakan kembali dalam gerakan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan hidup. Cuma memang, buah dari gerakan masyarakat ini terlalu cepat, akibat bencana ini, ”jelas Dodi.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) ikut hadir pada saat itu. Tim memberikan bantuan tenaga untuk membangun sekolah serta menyalurkan alat-alat untuk sarana belajar anak-anak.

Sekolah Darurat akhirnya melayani kebutuhan pendidikan anak-anak Kampung Wates selama bencana. Tidak hanya PAUD, tapi juga anak-anak SD ikut belajar di sana.

Hal ini mengingat sebagian besar orang tua tidak ingin pergi sekolah di tengah jalan yang rawan longsor. Seperti yang terpikir oleh Siti Zubaidah, salah satu pengajar di Sekolah Darurat.

“Istilahnya aku kan juga punya anak, dan anakku sekolah juga di bawah. Saya khawatir jika dia jalan sendiri. Setelah bencana, dia terjadi liburan, Sampai sekarang sudah aman juga, tetap ada yang mengantar pergi ke sekolah. Antara saya atau bapaknya, ”kata Siti.

Jalan menuju ke atas atau ke bawah di desa sekarang kembali ke bersih. Daerah-daerah rawan longsor juga telah ditembok sementara menggunakan batu-batu besar yang disiapkan semikian rupa untuk memegang tanah.

Jalan relatif aman, siswa juga telah kembali beraktivitas normal, meskipun sebagian besar orang tua masih khawatir dan memilih mengantar anak mereka ke sekolah.

Namun, Sekolah Darurat masih bertahan. Dengan 34 anak yang keseluruhannya adalah anak PAUD, sekolah ini masih beraktivitas dari jam 8 hingga 10 pagi.

Anak-anak terlihat bahagia. Belajar berhitung, membaca, dan belajar, hanya di dalam sekolah yang sederhana.

“Anak saya juga lebih senang sekolah di sini. Lagipula jika saya harus turun ke bawah kan lumayan jauh juga. Jadi lebih baik anak saya belajar di sini saja, ”ungkap Aas, yang memilih dibatalkan diterima di PAUD bawah desa.

Respons masyarakat ini yang disenangi oleh Dodi. Apa yang dibangun oleh masyarakat, akhirnya didukung oleh masyarakat sendiri.

Besar harapan Dodi pada akhirnya Sekolah Darurat adalah persiapan masyarakat untuk sekolah permanen. Memudahkan, mempermudah akses pendidikan di Kampung Wates.

“Harapan saya, banyak orangutan yang hadir dan hadir, untuk mendampingi kita. Karena memang jujur, kita belum bisa berdiri sendiri. Kita berharap bisa mandiri dari sisi ekonomi, dan anak-anak muda di wilayah kita bisa membangun kampungnya sendiri, ”ujar Dodi.

Sumber:Metropolitan

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Bogor
scattered clouds
29.4 ° C
29.7 °
28.5 °
66 %
0.6kmh
49 %
Jum
28 °
Sab
30 °
Ming
29 °
Sen
29 °
Sel
29 °

Berita terbaru

Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk Sampah di Jalan Raya Dramaga

DRAMAGA - Kecelakaan lalulintas terjadi di Jalan Raya Dramaga Kilometer 7, seorang pengendara motor tewas di lokasi kejadian usai...

Berita Terkait
publikbicara.com