Publikbicara.com – Keterbatasan pupuk dan kondisi tanah yang kurang subur tak lagi menjadi alasan bagi mama-mama di kawasan Tamoge, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, untuk berhenti bercocok tanam.
Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI), sampah rumah tangga yang sebelumnya dibuang atau dibakar kini diolah menjadi bahan penyubur tanaman. Inovasi sederhana tersebut mulai membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan pertanian skala rumah tangga secara mandiri.
Sebanyak 20 mama-mama dari Satuan Permukiman (SP) 1 dan 2 Tamoge, Kawasan Transmigrasi Werianggi, mengikuti pelatihan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim dan kompos.
Program ini menyasar persoalan yang selama ini dihadapi warga. Meski memiliki semangat tinggi untuk menanam sayuran di pekarangan, mereka terkendala kondisi tanah yang kurang subur serta mahalnya sarana pertanian.
Anggota TEP UI, Rathalia, mengatakan pengolahan sampah rumah tangga menjadi alternatif yang dapat diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Warga sangat bersemangat menanam sayur jika difasilitasi, tetapi tanahnya kurang subur. Oleh karena itu, kami berinisiatif mengolah sampah rumah tangga agar bermanfaat untuk menyuburkan tanah,” kata Rathalia, Jumat (6/11/2026).
Dalam praktiknya, warga diajarkan mengolah sisa dapur seperti kulit buah dan potongan sayuran menjadi ekoenzim. Prosesnya menggunakan 100 gram gula merah yang dilarutkan dalam satu liter air, kemudian dicampur dengan 300 gram limbah organik yang telah dipotong kecil.
Campuran tersebut disimpan dalam wadah tertutup dan ditempatkan di lokasi teduh selama tiga bulan. Selama proses fermentasi, tutup wadah sesekali dibuka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk.
Selain dimanfaatkan untuk membantu menyuburkan tanaman, ekoenzim juga dapat digunakan sebagai cairan pembersih lantai dan membantu mengurangi bau pada tempat sampah.
Sementara itu, sampah organik yang tidak digunakan sebagai bahan ekoenzim diolah bersama daun-daun kering menjadi kompos.
Perubahan kebiasaan tersebut mulai dirasakan warga. Sampah yang sebelumnya menjadi limbah kini memiliki nilai guna, sekaligus menyediakan bahan pendukung untuk aktivitas bercocok tanam.
Mama Olhal Netennya, salah satu peserta pendampingan, mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam memanfaatkan sampah rumah tangga.
“Sekarang sampah di rumah sudah tidak dibuang lagi. Setelah adik-adik datang, sampah kami olah untuk menyuburkan tanaman di pekarangan dan juga mengurangi kotoran. Sebelumnya kami hanya bakar rumput lalu abunya ditaruh di pohon-pohon,” tuturnya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada warga lainnya agar semakin banyak keluarga yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran.
Saat ini, sejumlah mama-mama mulai menanam cabai, tomat, terong, hingga sawi di pekarangan masing-masing. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia yang harganya relatif mahal.
Pendampingan ini menjadi penting mengingat lokasi permukiman Tamoge berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Wasior sebagai kota terdekat. Hingga kegiatan tersebut dilaksanakan, warga juga belum mendapatkan sosialisasi maupun pendampingan khusus pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup.
Inisiatif TEP UI tersebut sekaligus sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat kemandirian pupuk sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pupuk dari luar negeri.
“Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita akan menjadi bangsa yang sangat-sangat kuat, Saudara-saudara,” ujar Prabowo dalam acara Panen Raya Jagung Serentak dan Groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri, 16 Mei 2026.
Arahan tersebut juga sejalan dengan penekanan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), agar Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya mengidentifikasi persoalan masyarakat di lapangan, tetapi turut menghadirkan solusi yang dapat diterapkan.
“Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal,” kata AHY saat berdialog dengan TEP di Jayapura, Papua, 17 September 2026.
Senada, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan bahwa kegiatan Ekspedisi Patriot harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat,” ujarnya pada 21 Juli 2026.
Di Tamoge, manfaat tersebut mulai terlihat dari perubahan sederhana: sampah dapur yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini menjadi bagian dari upaya menghidupkan pekarangan rumah.
Dari pengolahan limbah organik, mama-mama di kawasan transmigrasi Werianggi mulai membangun langkah kecil menuju kemandirian pangan keluarga.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












