Beranda Kesehatan Kemenkes Gandeng Takeda, Indonesia Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma Pertama di ASEAN

Kemenkes Gandeng Takeda, Indonesia Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma Pertama di ASEAN

Kantor Kementerian Kesehatan. Foto: Kemenkes.

Publikbicara.com – Pemerintah Indonesia mengambil langkah baru dalam memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional dengan menggandeng perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda, untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Kolaborasi ini sekaligus menjadi pembangunan ekosistem plasma terintegrasi hulu hingga hilir pertama di kawasan Asia Tenggara.

Kerja sama tersebut ditandai dengan pemberian izin fraksionasi plasma oleh Kementerian Kesehatan kepada Takeda. Melalui kemitraan ini, pemerintah menargetkan ketersediaan terapi berbasis plasma dapat dipenuhi secara berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pengembangan ekosistem plasma merupakan bagian dari strategi pemerintah membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh menghadapi kebutuhan layanan di masa depan.

“Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kerja sama yang erat dengan mitra global terpercaya seperti Takeda, Indonesia akan dapat mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan,” ujar Budi dikutip dari laman resmi Kemenkes, Kamis (16/7).

Sebagai tahap awal, Takeda menyiapkan investasi hingga 30 juta dolar AS atau sekitar Rp539 miliar selama dua tahun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan menjadi bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.

Selama fasilitas produksi dalam negeri masih dalam tahap kajian, plasma yang dikumpulkan dari Indonesia akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan prioritas untuk memenuhi kebutuhan pasien di dalam negeri. Di saat yang sama, perusahaan juga tengah mempelajari kemungkinan pembangunan fasilitas produksi terapi turunan plasma berteknologi tinggi di Indonesia.

READ  PBSI Tetapkan 74 Atlet Pelatnas 2026, Tiga Nama Baru Warnai Skuad

Langkah tersebut dinilai penting mengingat kebutuhan terhadap terapi derivat plasma terus meningkat, sementara Indonesia bersama sebagian besar negara ASEAN masih menghadapi tantangan rendahnya diagnosis pasien dan terbatasnya akses terhadap terapi esensial tersebut.

Kemitraan ini juga melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri kesehatan nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyebut investasi Takeda tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja baru di sektor kesehatan.

“Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju,” kata Rosan.

Sementara itu, Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung pengembangan industri plasma nasional melalui pemanfaatan keahlian global yang dimiliki Takeda. Menurutnya, kerja sama ini juga akan membuka peluang kerja berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium di Indonesia.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakMitchell Baker Resmi Jadi WNI, Siap Tambah Daya Gedor Timnas Indonesia
Artikulli tjetërSabar/Reza Lolos Dramatis ke Babak 16 Besar Japan Open 2026