Publikbicara.com – Pagi itu, sejumlah warga terlihat memungut sampah di pinggir jalan. Di sudut lain, kelompok masyarakat bergotong royong membersihkan saluran air yang mulai dipenuhi endapan sampah.
Spanduk Hari Lingkungan Hidup Sedunia terbentang di berbagai titik, mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap bumi.
Pemandangan seperti ini hampir selalu hadir setiap tanggal 5 Juni.

Namun di balik semangat bersih-bersih yang ramai dilakukan, Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi atau Jaro Ade, mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak pernah sesederhana sampah yang terlihat di permukaan.
Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yakni kesadaran manusia dalam memperlakukan lingkungan tempat mereka hidup setiap hari.
Menurut Jaro Ade, banyak orang menginginkan lingkungan yang bersih dan nyaman. Sayangnya, keinginan itu sering kali tidak diikuti dengan kebiasaan yang mendukung.
Sampah masih kerap dibuang dari kendaraan, bungkus makanan ditinggalkan begitu saja di ruang publik, dan saluran air dibiarkan tersumbat hingga akhirnya menjadi sumber masalah bagi banyak orang.

“Kita semua senang melihat lingkungan yang bersih. Tapi lingkungan yang bersih tidak tercipta hanya karena satu hari kerja bakti. Lingkungan yang bersih lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” ujar Jaro Ade saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026).
Ia menilai, perilaku yang dianggap sepele sering kali menjadi awal dari persoalan besar. Sebungkus plastik yang dibuang sembarangan mungkin terlihat tidak berarti.
Namun ketika dilakukan oleh ribuan orang setiap hari, dampaknya bisa berubah menjadi tumpukan sampah, sungai yang tercemar, hingga banjir yang merugikan masyarakat luas.
Bagi Jaro Ade, menjaga lingkungan sejatinya bukan hanya urusan kebersihan. Di dalamnya terdapat nilai kepedulian sosial dan gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia.

“Menjaga lingkungan bukan pekerjaan pemerintah semata. Ini tentang kepedulian kita terhadap tetangga, terhadap anak-anak yang akan mewarisi daerah ini, dan terhadap masa depan bersama,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi lingkungan bukan hanya perubahan iklim atau pencemaran yang sering dibahas dalam berbagai forum. Ancaman yang tak kalah berbahaya adalah sikap abai yang perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
“Kalau kita masih membuang sampah sembarangan, membiarkan selokan tersumbat, atau merasa kebersihan adalah urusan orang lain, maka seberapa banyak kegiatan bersih-bersih dilakukan hasilnya tidak akan bertahan lama,” tegasnya.
Karena itu, momentum Hari Lingkungan Hidup tahun ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Kesadaran menjaga lingkungan harus tumbuh dari rumah-rumah, diajarkan di sekolah, dibiasakan di tempat ibadah, dan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab lingkungan yang sehat tidak lahir dari slogan yang terpampang di baliho atau spanduk peringatan.
Lingkungan yang sehat lahir dari tangan-tangan yang memilih membuang sampah pada tempatnya, dari warga yang peduli terhadap saluran air di depan rumahnya, dan dari masyarakat yang memahami bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
“Bila budaya peduli lingkungan tumbuh menjadi karakter masyarakat, maka lingkungan akan terjaga. Dan ketika lingkungan terjaga, kualitas hidup kita semua juga akan ikut meningkat,” pungkas Jaro Ade.
Di tengah berbagai aksi bersih-bersih yang digelar pada Hari Lingkungan Hidup 2026, pesan itu terasa sederhana, namun penting.
“lingkungan tidak membutuhkan kepedulian setahun sekali. Lingkungan membutuhkan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.” tegas Jaro Ade.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow











