Publikbicara.com – Tenun Nusantara kembali mendapat panggung di ruang publik modern. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, membuka Weaving Archipelago, pameran yang membawa kekayaan tenun tradisional Indonesia ke dalam pendekatan fesyen, desain, hingga gaya hidup kontemporer.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Glorify Indonesia 2026 itu berlangsung di Senayan City, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Weaving Archipelago merupakan kolaborasi Senayan City dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) dan digelar pada 12 -29 Agustus 2026. Selain menjadi bagian dari perayaan 20 tahun Senayan City, kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan warisan tenun dengan selera masyarakat masa kini.
Beragam program disiapkan dalam gelaran tersebut, mulai dari Tenun Display, CTI Journey, instalasi alat tenun tradisional, live weaving demonstration, pertunjukan budaya, talkshow, workshop, hingga styling session.
Teuku Riefky menilai langkah tersebut penting untuk memastikan tenun tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi terus berkembang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif nasional.
“Tenun itu sebetulnya sudah lama, kemudian para desainer juga mendesainnya dengan segala kreativitas. Tetapi harus kita dukung, harus kita tampilkan terus agar nilai ekonominya terus berkembang,” kata Teuku Riefky.
Menurutnya, meningkatnya nilai ekonomi tenun harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para perajin yang selama ini menjadi bagian penting dalam rantai ekosistem tersebut.
Dalam kunjungannya, Teuku Riefky turut meninjau sejumlah instalasi yang menampilkan proses pembuatan dan keragaman tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran alat tenun tradisional dan demonstrasi menenun secara langsung juga menjadi cara untuk memperkenalkan proses di balik produk tenun kepada masyarakat.
Tak hanya soal pemasaran, pemerintah juga mendorong perlindungan terhadap karya dan desain tenun melalui kekayaan intelektual.
Teuku Riefky mengatakan aspek hak kekayaan intelektual perlu diperkuat agar desain dan karya berbasis budaya Indonesia tidak mudah ditiru atau dibajak.
“IP-nya, desainnya juga harus segera kita sertifikasi ke Kementerian Hukum sehingga tidak dibajak, sehingga originalitasnya, nilai keekonomiannya, pelindungannya itu tetap kita lakukan bersama-sama,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Cita Tenun Indonesia, Intan Fauzi, menyebut Weaving Archipelago menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasinya dalam memperkenalkan tenun Indonesia sekaligus memperluas akses pemasaran.
Menurut Intan, penempatan karya tenun di ruang publik seperti Senayan City memiliki arti tersendiri di tengah persaingan dengan produk dan jenama internasional.
“Di tengah gempuran brand-brand internasional, alhamdulillah kebanggaan Indonesia salah satunya tenun ditempatkan di lantai dasar ini. Ini menjadi satu kebanggaan buat kami,” kata Intan.
Cita Tenun Indonesia berdiri pada 28 Agustus 2008 dengan fokus pada pelestarian tenun, pengembangan kapasitas perajin, pelatihan, serta perluasan pemasaran produk tenun Indonesia.
Hingga kini, CTI tercatat telah membina perajin di 28 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi. Pengembangan tersebut dilakukan melalui berbagai kolaborasi, termasuk peningkatan kualitas produk dan keikutsertaan dalam pameran di luar negeri, salah satunya di Singapura.
Bagi Teuku Riefky, Weaving Archipelago idealnya tidak berhenti sebagai agenda pameran. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik temu baru antara perajin, desainer, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai pihak yang dapat memperkuat ekosistem tenun nasional.
“Saya berharap Weaving Archipelago tidak hanya menjadi sebuah pameran, tetapi juga menjadi ruang lahir kolaborasi baru, membuka peluang usaha, memperkuat jenama lokal, dan membawa tenun Indonesia semakin mendunia,” tuturnya.
Dengan pendekatan yang menggabungkan tradisi dan industri kreatif, Weaving Archipelago menjadi salah satu upaya membawa tenun keluar dari kesan sebagai produk tradisional semata dan menempatkannya sebagai bagian dari gaya hidup serta komoditas kreatif yang memiliki nilai ekonomi.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













