Beranda Daerah Dedi Mulyadi Dorong KIP Kuliah Lebih Inklusif, Batas Gaji Orangtua Diusulkan Rp10...

Dedi Mulyadi Dorong KIP Kuliah Lebih Inklusif, Batas Gaji Orangtua Diusulkan Rp10 Juta

Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) Tahun Akademik 2026/2027 di Stadion Jati Padjadjaran, Unpad Kampus Jatinangor, pada Senin (10/8/2026). Foto: Pemprov Jabar.

Publikbicara.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan perubahan batas penghasilan orangtua sebagai salah satu syarat penerima program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Ia menilai batas tersebut perlu diperluas agar lebih banyak mahasiswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas dapat mengakses pendidikan tinggi.

Dedi mengusulkan mahasiswa dengan orangtua yang memiliki penghasilan gabungan di bawah Rp10 juta tetap dapat menerima KIP Kuliah.

Usulan itu disampaikan Dedi saat memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) Tahun Akademik 2026/2027 di Stadion Jati Padjadjaran, Unpad Kampus Jatinangor, Senin (10/8/2026).

Menurut Dedi, ketentuan yang berlaku saat ini masih terlalu membatasi. Pada tahun ini, salah satu persyaratan KIP Kuliah mensyaratkan penghasilan orangtua berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) sesuai domisili mahasiswa.

Di Jawa Barat, ketentuan tersebut membuat batas penghasilan gabungan orangtua berada di kisaran Rp2,3 juta.

“Saya usul agar nanti ketentuannya dibawah Rp10 juta boleh dapat KIP,” kata KDM, sapaan akrabnya, dikutip dari laman resmi Pemprov Jabar, Senin (10/8).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah sejumlah mahasiswa menyampaikan keluhan terkait tingginya biaya pendidikan dan kebutuhan hidup selama menempuh perkuliahan di Jatinangor.

Keluhan tidak hanya datang dari mahasiswa yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Mahasiswa yang masuk melalui jalur prestasi, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas, juga menghadapi persoalan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari.

READ  Drainase Diselamatkan, Pemkot Bogor Tertibkan Bangunan Liar

Salah seorang mahasiswa penyandang disabilitas netra, Gina, mengaku bersyukur dapat menempuh pendidikan di Unpad secara gratis. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar kepada penyandang disabilitas agar memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Dedi meminta mahasiswa tidak menyerah hanya karena menghadapi kendala ekonomi.

Ia bahkan memberikan sejumlah bantuan secara langsung kepada mahasiswa, mulai dari biaya tempat tinggal selama dua tahun hingga bantuan biaya kuliah gratis selama lima semester. Dedi juga memberikan modal usaha sebesar Rp5 juta kepada mahasiswa yang ingin menjalankan usaha kecil untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.

Dedi menegaskan, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan seseorang menghentikan pendidikan.

Menurutnya, pendidikan tinggi dapat menjadi salah satu jalan untuk memperbaiki kondisi kehidupan seseorang di masa mendatang.

“Jangan hanya mengejar gelar akademik namun perbanyak pengalaman selama menjadi mahasiswa. Jadikanlah kesulitan itu sahabat agar Anda menjadi orang yang mampu, tidak mengalami masalah ketika berhadapan dengan kesulitan. Musuh jangan dijauhi, tapi jadikan temannya,” ujar Dedi.

Dalam kesempatan yang sama, mahasiswa asal Depok bernama Livy meminta perhatian Dedi terhadap kondisi jalan di kawasan Jatinangor, terutama yang berada di sekitar lingkungan kampus.

Livy bahkan menyatakan kesiapannya bersama mahasiswa lain untuk ikut terlibat dalam upaya memperbaiki dan menjaga kawasan kampus.

Dedi menjelaskan, sebagian ruas jalan yang dikeluhkan merupakan jalan nasional sehingga kewenangannya berada di pemerintah pusat.

Meski demikian, ia menyatakan akan berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum terkait persoalan tersebut.

Jika mendapat izin dari pemerintah pusat, Dedi menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap membantu melakukan penanganan.

“Kalau diijinkan tahun depan kinclong. Tapi warga kampus juga harus ikut menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.

READ  Bogor Siap Bangun PSEL, Target Olah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik

Dedi juga memberikan motivasi kepada mahasiswa kedokteran hewan yang merasa bidang studinya masih kalah populer dibandingkan kedokteran umum.

Keisya, salah seorang mahasiswi kedokteran hewan, menyampaikan keinginannya untuk ikut menjaga dan mengembalikan keanekaragaman satwa di Indonesia. Namun, ia mengaku bidang kedokteran hewan masih kerap dipandang sebelah mata dan memiliki peminat yang lebih sedikit dibandingkan kedokteran umum.

Dedi meminta Keisya tidak minder dengan pilihannya.

Ia menilai kebutuhan tenaga dokter hewan masih sangat besar, baik di sektor swasta, badan usaha milik negara (BUMN), maupun pemerintahan.

Menurut Dedi, peluang kerja dan penghasilan dokter hewan juga terbuka luas, bahkan berpotensi lebih besar dibandingkan dokter umum pada bidang tertentu.

Dedi pun mengapresiasi cita-cita Keisya untuk memperkuat pendataan mengenai hewan endemik Indonesia.

Ia menilai mahasiswa harus berani memilih bidang yang sesuai dengan minat sekaligus memiliki manfaat bagi masyarakat.

Bagi Dedi, keberhasilan mahasiswa tidak semata-mata ditentukan oleh popularitas jurusan yang dipilih, tetapi juga oleh kemampuan mengembangkan diri dan memberikan kontribusi setelah menyelesaikan pendidikan.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakBRIN Uji Pupuk SRF dan Pengendalian Hama Terpadu untuk Efisiensi Budidaya Padi di Klaten
Artikulli tjetërBangli dan PKL Ditertibkan di Kiaracondong, Pemprov Jabar Siapkan 800 Kios untuk Pedagang