Beranda Daerah BRIN Uji Pupuk SRF dan Pengendalian Hama Terpadu untuk Efisiensi Budidaya Padi...

BRIN Uji Pupuk SRF dan Pengendalian Hama Terpadu untuk Efisiensi Budidaya Padi di Klaten

BRIN dorong perubahan pola budidaya padi di kalangan petani melalui penerapan Slow Release Fertilizer (SRF). Foto: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong perubahan pola budidaya padi di kalangan petani melalui penerapan Slow Release Fertilizer (SRF) yang dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Teknologi tersebut tengah dikembangkan melalui demplot di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selain mengejar peningkatan produktivitas, program ini diarahkan untuk menekan penggunaan pupuk kimia sekaligus menghadapi ancaman hama Wereng Batang Coklat (WBC).

Program pendampingan tersebut kini memasuki Demplot II dengan luas lahan sekitar 3.200 meter persegi. Sebelumnya, BRIN telah menerapkan Demplot I pada lahan seluas 3.300 meter persegi.

Peneliti Pendamping Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Agus Supriyo, mengatakan pada tahap kedua petani dilibatkan dalam pembuatan pupuk SRF Formula B.

Formula tersebut memanfaatkan Urea, SP36, dan Kalium dengan dosis yang lebih rendah. Bahan-bahan itu kemudian dienkapsulasi menggunakan sejumlah bahan pembenah tanah, antara lain arang tempurung kelapa, arang sekam, bahan organik, serta zeolit.

“Formula B dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman sekaligus membantu memperbaiki sifat fisik, kimia dan rizosfer tanah,” jelas Agus dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (10/8).

Menurut dia, karakter slow release memungkinkan unsur hara dilepaskan secara bertahap sehingga tanaman dapat menyerapnya dengan lebih efisien. Skema tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas tanaman tanpa harus mendorong peningkatan penggunaan pupuk kimia.

Penerapan SRF sekaligus menjadi bagian dari upaya BRIN mengubah kebiasaan petani yang masih menganggap pemberian pupuk dalam jumlah besar dapat mempercepat atau meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Ketua Gapoktan Desa Sidowayah, Jaenuri, mengakui pola tersebut masih ditemukan di kalangan petani. Sebagian petani bahkan menjadikan warna hijau daun sebagai patokan utama untuk menentukan kebutuhan pupuk.

READ  ASAR Humanity Turun ke 10 Desa, Gotong Royong Percepat Pemulihan Aceh Pasca Bencana

“Kalau tidak dipupuk yang banyak, maka tanaman padi tidak mau berbunga,” ujar Jaenuri.

Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji, mengatakan penerapan SRF tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Pendampingan juga diarahkan agar petani mulai menerapkan pola budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Di sisi lain, petani di Klaten juga menghadapi peningkatan serangan WBC pada musim tanam gadu tahun ini. Kondisi tersebut mendorong BRIN menggabungkan teknologi pemupukan dengan PHT dalam pelaksanaan demplot.

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlina B. Puspita, menjelaskan pengendalian WBC harus dilakukan sejak dini dan tidak mengandalkan satu metode.

Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan memilih varietas yang memiliki ketahanan terhadap wereng, seperti Inpari 32 WBC dan Bioni 63, melakukan pemantauan hama sejak awal pertumbuhan tanaman, serta menerapkan pola tanam serentak.

Dengan pola tersebut, demplot tidak hanya berfungsi sebagai lokasi pengujian teknologi, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran bersama antara peneliti dan petani.

Dalam pelaksanaannya, petani menyediakan lahan secara swadaya. Sementara itu, tim BRIN menyiapkan bahan pembuatan SRF dan benih padi yang digunakan dalam demplot.

BRIN tidak ingin pengembangan SRF berhenti sebagai teknologi yang hanya digunakan dalam lahan percontohan. Inovasi tersebut mulai diarahkan menjadi model usaha yang dapat memberikan manfaat ekonomi kepada petani.

Gutomo mengatakan pupuk SRF ke depan direncanakan dikembangkan melalui koperasi bersama Gapoktan. Skema itu diharapkan membuat teknologi hasil riset dapat diproduksi dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh petani.

“Pupuk SRF bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pembenah tanah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon dari sektor nitrogen pertanian,” kata Gutomo.

READ  Jepang dan Indonesia Sepakat Perkuat Ekonomi dan Keamanan Indo-Pasifik

Kolaborasi antara BRIN, koperasi, dan Gapoktan tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga efisiensi biaya, pengendalian hama, kesehatan tanah, dan penguatan ekonomi petani.

Melalui model tersebut, BRIN mendorong agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium atau lahan percobaan, melainkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dan memberi dampak langsung bagi petani.

“Kalau tidak dipupuk yang banyak, maka tanaman padi tidak mau berbunga,” ujarnya.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakATR/BPN Percepat Layanan Pertanahan, Celah Mafia Tanah Mulai Ditutup
Artikulli tjetërDedi Mulyadi Dorong KIP Kuliah Lebih Inklusif, Batas Gaji Orangtua Diusulkan Rp10 Juta