Beranda Daerah BRIN Cetak Penggerak Eco-Village Rendah Karbon Lewat Kolaborasi Internasional

BRIN Cetak Penggerak Eco-Village Rendah Karbon Lewat Kolaborasi Internasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Feng Chia University’s University Social Responsibility (FCU USR) menyelenggarakan The 2026 Green Synergy Program: Green Synergy for Low-carbon Eco Villages in Indonesia. Foto: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Feng Chia University’s University Social Responsibility (FCU USR) dan Asia-Pacific Economic Cooperation–Research Center for Advanced Biohydrogen Technology (APEC-ACABT) Taiwan memperkuat upaya pengembangan desa rendah karbon melalui penyelenggaraan The 2026 Green Synergy Program di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong.

Program yang berlangsung selama dua hari itu difokuskan pada peningkatan kapasitas para peneliti, akademisi, dan instansi pemerintah dalam mengembangkan konsep eco-village berbasis bioenergi dan ekonomi sirkular yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari kerja sama internasional di bawah skema Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI) APEC.

“Program ini memanfaatkan keunggulan Indonesia di sektor pertanian dan energi terbarukan, khususnya bioenergi, untuk mendorong pengembangan masyarakat rendah karbon yang terintegrasi,” kata Ratih dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (29/7).

Menurutnya, pendekatan yang dikembangkan tidak hanya menitikberatkan pada pemanfaatan energi terbarukan, tetapi juga membangun kapasitas sumber daya manusia agar mampu menjadi pelatih di daerah masing-masing melalui metode Training of Trainers (ToT).

Empat materi utama diberikan kepada peserta, yakni ekonomi sirkular berbasis energi, penilaian kredit karbon, evaluasi kelistrikan, serta analisis biaya dan manfaat. Seluruh materi dirancang agar dapat disesuaikan dengan karakteristik dan potensi lokal setiap wilayah.

Sementara itu, perwakilan FCU dan APEC-ACABT, Chyi-How Lay, menegaskan bahwa pengembangan teknologi harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, menurutnya, akademisi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga harus memastikan inovasi yang dikembangkan mampu menyelesaikan persoalan di lapangan.

READ  BRIN Pamerkan Teknologi SAR dan Mitigasi Bencana di IISAR 2026

Ia mengungkapkan, APEC-ACABT telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Salah satu implementasinya dilakukan bersama Universitas Sam Ratulangi melalui penerapan teknologi two-phase HyMeTek yang mengolah limbah peternakan dan rumah potong hewan menjadi sumber energi listrik alternatif.

Di sisi lain, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menilai percepatan transisi energi menjadi kebutuhan mendesak karena konsumsi energi nasional terus meningkat, sementara ketergantungan terhadap energi fosil masih sangat tinggi.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki peluang besar untuk mendukung kemandirian energi melalui pemanfaatan limbah biomassa yang diolah menjadi energi terbarukan sekaligus mengurangi emisi karbon.

Konsep eco-village, lanjut Puji, diharapkan mampu mendorong desa menjadi lebih mandiri, baik dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun energi, dengan mengoptimalkan sumber daya lokal dan menerapkan sistem ekonomi sirkular tanpa limbah (zero waste).

Pelatihan Green Synergy 2026 diikuti 30 peserta dari lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan instansi pemerintah. Selain mengikuti sesi kelas, peserta juga mengunjungi sejumlah fasilitas riset di KST B.J. Habibie, termasuk instalasi produksi biodiesel, gasifikasi, dan pirolisis sebagai bagian dari pembelajaran teknologi energi terbarukan.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakSolidaritas Lintas Daerah, KTH Ciguha River Bantu Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya
Artikulli tjetërKopassus Siap Hibahkan Lahan, Pemkab Bogor Percepat Pembangunan PSEL Galuga