Beranda Daerah Festival Saba Lembur II Hidupkan Tradisi, Curug Cidurian Jadi Motor Ekonomi Warga

Festival Saba Lembur II Hidupkan Tradisi, Curug Cidurian Jadi Motor Ekonomi Warga

Oplus_131072

Publikbicara.com  – Ratusan warga memadati kawasan Bukit Wisata Curug Cidurian, Kampung Cibuluh, Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Selasa (7/7/2026), untuk mengikuti Festival Adat dan Budaya Saba Lembur II. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga memperkuat pengembangan wisata berbasis masyarakat.

Rangkaian acara hari kedua diawali dengan pawai dongdang yang menampilkan hasil pertanian, perkebunan, dan berbagai produk lokal. Arak-arakan itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus memperkenalkan potensi Desa Kiarasari kepada para pengunjung.

Puncak kemeriahan berlangsung saat tradisi ngubek empang. Sekitar tiga kuintal ikan dilepas ke dalam kolam dan diperebutkan ratusan warga yang turun bersama ke dalam empang. Tradisi tersebut menjadi atraksi yang paling dinanti dan berhasil menarik perhatian wisatawan yang datang ke kawasan Curug Cidurian.

Pembina Ekowisata Curug Cidurian, Nurodin atau Jaro Peloy, mengatakan Festival Adat dan Budaya Saba Lembur berlangsung selama tiga hari dengan berbagai kegiatan yang menggabungkan nilai budaya, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Hari pertama diisi perlombaan tradisional, malam harinya zikir akbar. Kami ingin wisata ini bukan hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga membentuk masyarakat yang ramah kepada tamu sehingga mampu menghadirkan keberkahan melalui perputaran ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, karnaval hasil bumi menjadi media promosi potensi pertanian sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan wisata di Curug Cidurian dibangun oleh masyarakat, bukan oleh investor besar.

“Semua hasil pertanian dibawa ke lokasi dan disajikan untuk dinikmati bersama. Pendatang dapat menikmati alam sekaligus budaya yang masih terjaga di desa ini,” katanya.

Nurodin menambahkan, pengembangan ekowisata di Curug Cidurian diarahkan untuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. Dengan rata-rata kunjungan sekitar 7.000 wisatawan setiap bulan, warga didorong memanfaatkan peluang melalui penjualan produk pertanian, suvenir, hingga kuliner lokal.

READ  Mentan Amran Dorong Industri Susu Nasional Prioritaskan Peternak Lokal

“Saya ingin masyarakat tidak lagi bergantung mencari pekerjaan ke kota. Pasarnya kami datangkan ke desa sehingga warga tinggal memanfaatkan peluang yang ada,” ungkapnya.

Selain memberikan dampak ekonomi, keberadaan ekowisata juga dinilai memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan Curug Cidurian yang berada di hulu daerah aliran sungai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari wisata, mereka juga semakin sadar pentingnya menjaga hutan. Tradisi kasepuhan mengajarkan agar gunung tetap lestari, hutan tetap terjaga, dan alam diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutup Nurodin.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakPemkab Bogor Hidupkan Ruang Publik Lewat Nobar Piala Dunia, UMKM Ikut Kecipratan Manfaat
Artikulli tjetërDanantara Gandeng Tony Blair Institute untuk Percepat Transformasi BUMN