Beranda Internasional Menkes: Kedaulatan Kesehatan Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap

Menkes: Kedaulatan Kesehatan Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap

Pertemuan High Level Roundtable Discussion: Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Foto: Kemenkes.

Publikbicara.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kemandirian sektor kesehatan menjadi syarat utama bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Menurutnya, ketergantungan terhadap impor produk kesehatan tidak hanya melemahkan ketahanan nasional, tetapi juga menghambat potensi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Pernyataan itu disampaikan Budi dalam High Level Roundtable Discussion: Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN yang berlangsung di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Rabu (24/6).

Budi mengatakan pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan setiap negara akan memprioritaskan kebutuhan rakyatnya sendiri saat krisis terjadi. Karena itu, Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan kesehatan strategis secara mandiri, mulai dari vaksin hingga obat-obatan.

“Belajar dari pandemi COVID-19, saat krisis melanda, setiap negara pasti akan menyelamatkan rakyatnya sendiri terlebih dahulu. Untuk itu, negara sebesar Indonesia dengan 280 juta penduduk wajib memiliki kedaulatan kesehatan sendiri, mulai dari vaksin hingga obat-obatan. Kita tidak boleh lagi hanya bergantung pada belas kasihan negara lain,” ujar Budi dikutip dari laman Kemenkes.

Pemerintah mencatat ketergantungan impor produk kesehatan yang sebelumnya mencapai lebih dari 90 persen kini berhasil ditekan menjadi sekitar 70 hingga 80 persen. Untuk mempercepat hilirisasi industri kesehatan, Kementerian Kesehatan telah memfasilitasi produksi 35 bahan baku obat (API) di dalam negeri.

Selain memperkuat ketahanan kesehatan, langkah tersebut juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Budi menyebut belanja kesehatan nasional yang tumbuh sekitar 12 – 13 persen per tahun harus mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, bukan justru mengalir ke pasar luar negeri.

READ  Prancis Unggul 1-0 atas Irak, Kickoff Babak Kedua Tertahan Akibat Badai Petir

Salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan adalah pembangunan fasilitas pengolahan plasma darah di Karawang. Pemerintah menargetkan pada awal 2027 Indonesia sudah dapat memproduksi sendiri Albumin dan Immunoglobulin yang selama ini masih bergantung pada impor.

Di sektor vaksin, Indonesia kini memiliki tiga perusahaan dengan kapasitas produksi yang meningkat hingga 60 persen. Pemerintah juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat riset kesehatan di kawasan ASEAN melalui berbagai uji klinik vaksin, termasuk vaksin tuberkulosis, malaria, dengue, dan PCV13.

Untuk mendukung penguasaan teknologi kesehatan modern, tenaga ahli Indonesia dikirim mengikuti pelatihan biomanufaktur dan teknologi mRNA di sejumlah lembaga internasional.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menilai penguatan ekosistem kesehatan nasional memiliki peran penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7 hingga 8 persen.

Menurut Luhut, penerapan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam layanan pemerintahan akan meningkatkan transparansi serta efisiensi sektor kesehatan sehingga mampu memperkuat daya saing nasional.

Sementara itu, Anggota DEN Mari Elka Pangestu menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara ASEAN dalam membangun ketahanan kesehatan kawasan. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 650 juta jiwa, ASEAN dinilai memiliki pasar yang cukup besar untuk mendukung pengembangan industri vaksin dan rantai pasok kesehatan regional.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman wabah di masa depan, pemerintah telah menyusun National Action Plan for Health Security (NAPHS) 2025–2029 yang didukung pendanaan Pandemic Fund.

Kajian Bank Dunia menunjukkan setiap investasi sebesar USD 1 di sektor kesehatan berpotensi menghasilkan dampak ekonomi hingga USD 3. Pemerintah memperkirakan peningkatan angka harapan hidup masyarakat dari 72 tahun menjadi 76 tahun dapat memberikan tambahan kontribusi sebesar 5 – 6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), apabila seluruh ekosistem industri kesehatan dibangun dan berkembang di dalam negeri.(Red).

READ  Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Virus Hanta

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakBRIN Ungkap Tahapan Rumit Pembuatan Satelit, NEO-1 Disiapkan untuk Observasi Bumi
Artikulli tjetërPresiden Prabowo Berikan Bantuan Drumben untuk SDN Tegallega