Beranda Nasional BMKG Ungkap Penyebab Hujan Masih Mengguyur Saat Musim Kemarau

BMKG Ungkap Penyebab Hujan Masih Mengguyur Saat Musim Kemarau

Ilustrasi hujan saat melanda wilayah Bogor.

Publikbicara.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meski sebagian daerah telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut dipicu kombinasi aktivitas bibit siklon tropis 99W dan gelombang atmosfer yang meningkatkan pembentukan awan hujan.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan berdasarkan analisis iklim terkini, sebagian wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, sementara sebagian lainnya masih berada pada masa peralihan musim.

“Hal ini berimplikasi pada peningkatan suhu udara maksimum yang melampaui 35,0°C di wilayah Aceh, Riau, Bali, sebagian besar pulau Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, hingga Jawa Timur pada periode 21 sampai 24 Mei 2026,” kata Andri dalam keterangan seperti dikutip dari detikNews, Rabu (27/5).

Lanjutnya, pada wilayah yang masih berada pada periode peralihan, akumulasi panas dari pagi hingga siang hari ini menyebabkan proses konveksi yang memicu ketidakstabilan atmosfer sehingga terbentuk awan hujan pada sore dan malam hari.

BMKG mencatat suhu udara maksimum melampaui 35 derajat Celsius terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Riau, Bali, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, hingga Jawa Timur pada periode 21 – 24 Mei 2026.

Menurut Andri, akumulasi panas tersebut memicu proses konveksi atmosfer yang menyebabkan terbentuknya awan hujan pada sore hingga malam hari, terutama di wilayah yang masih berada dalam fase peralihan musim.

BMKG juga mencatat curah hujan tinggi terjadi di berbagai daerah, di antaranya Kalimantan Barat mencapai 129,5 mm per hari, DKI Jakarta 102,4 mm per hari, Bengkulu 96,4 mm per hari, Maluku 88,4 mm per hari, dan Jawa Barat 86,9 mm per hari.

READ  Untuk Menjaga Stabilitas Transisi Pemerintahan Airlangga Hartarto Mundur dari Ketua Umum Partai Golkar

Selain faktor lokal, peningkatan hujan dipengaruhi fenomena atmosfer global dan regional seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin yang aktif melintasi Indonesia.

Di sisi lain, bibit siklon tropis 99W yang berada di Samudera Pasifik utara Papua Nugini memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Papua dan sekitarnya.

BMKG juga mendeteksi sirkulasi siklonik di Perairan barat Sumatera Barat, Samudera Hindia barat daya Banten, serta Laut Sulu yang turut memperkuat potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Sementara itu, analisis indikator iklim global menunjukkan adanya indikasi El Nino lemah di Samudra Pasifik dengan indeks Nino 3.4 sebesar +0,68 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -12,5.

BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi pada periode 26–28 Mei 2026 di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Adapun wilayah dengan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat meliputi Kalimantan Utara, Maluku Utara dan Papua Pegunungan. BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang di Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua.

Untuk periode 29 Mei hingga 1 Juni 2026, BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakMotor Pengunjung Minimarket Raib Digondol Maling, Aksi Pelaku Terekam CCTV