Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono saat memberikan sambutan dalam acara Canisius Health Expo 2026 di Kolese Kanisius, Minggu (24/5). Dok: Kemenkes.
Publikbicara.com – Ancaman diabetes tipe 2 kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Pemerintah mengungkap tren mengkhawatirkan berupa meningkatnya kasus diabetes pada remaja, bahkan sudah ditemukan pada anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan perubahan pola hidup generasi muda menjadi faktor utama melonjaknya kasus tersebut. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri acara Canisius Health Expo 2026 di Kolese Kanisius, Minggu (24/5).
“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ungkap Dante dikutip dari laman resmi Kemenkes.
Menurutnya, kebiasaan duduk terlalu lama, minim aktivitas fisik, tingginya waktu penggunaan gawai, pola tidur yang buruk, hingga konsumsi makanan tinggi gula dan ultra-proses menjadi kombinasi yang mempercepat munculnya penyakit metabolik pada usia muda.
Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan mental yang banyak dialami remaja masa kini. Dante menegaskan, diabetes tipe 2 pada anak muda berkembang lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa dan berpotensi memicu komplikasi lebih dini.
Kementerian Kesehatan menilai persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan melalui pengobatan. Perubahan gaya hidup disebut sebagai langkah paling penting untuk menekan risiko diabetes sejak usia sekolah.
“Makan bersama keluarga, tidur cukup, mengurangi screen time, dan aktif bergerak harus mulai dibiasakan dari rumah,” katanya.
Sebagai contoh, Dante mengaku rutin melakukan aktivitas luar ruang bersama keluarganya, termasuk mendaki Gunung Ciremai bersama putranya untuk menjaga kebugaran sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap gawai.
Pemerintah sendiri mulai menjalankan sejumlah langkah pencegahan, di antaranya program Cek Kesehatan Gratis yang menyasar 25 juta pelajar di Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sistem “nutri-level” berupa label A hingga D pada kemasan makanan dan minuman untuk memberikan informasi kadar gula kepada masyarakat.
Dari hasil pemeriksaan kesehatan di sekolah, pemerintah menemukan berbagai masalah kesehatan yang mulai muncul pada usia remaja, seperti hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.
Sementara itu, Direktur Kolese Kanisius, Thomas Gunawan Wibisono, menyebut kegiatan expo kesehatan tersebut menjadi bentuk kontribusi alumni kepada masyarakat. Ia mengatakan alumni angkatan 2001 telah melahirkan 17 dokter yang kini aktif melayani di bidang kesehatan.
Menutup sambutannya, Dante mengingatkan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama bagi masa depan generasi muda.
“Tubuh adalah modal pertama dari semua cita-cita yang ingin dicapai. Kesehatan bukan tujuan akhir, melainkan cara menjalani hidup yang bermakna,” tutupnya.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













