Publikbicara.com – Perusahaan pengembang ekosistem properti-edukasi Grit Prospera mengoptimalkan unit hunian tipe 36 meter yang belum terjual dengan mengubahnya menjadi pusat belajar anak bertajuk Gerbang Cendekia (GC) Kids Center.
Cabang perdana akan mulai beroperasi pada 2 Mei 2026 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, berlokasi di Kota Bogor.
Konsep ini menyasar anak usia 3 – 10 tahun dengan pendekatan play-based learning dan metode Montessori, sekaligus menjawab dua kebutuhan sekaligus optimalisasi aset properti yang tidak produktif dan akses pendidikan anak di kawasan penyangga kota besar.
VP Public Affairs and Communication Grit Prospera, Rio Djauhari, mengatakan model ini memanfaatkan fenomena umum di kota sekunder seperti Bogor, Depok, dan Cibubur, di mana banyak unit rumah kecil tidak terserap pasar dalam waktu lama.
“Unit yang tidak menghasilkan ini menjadi beban pengembang. Kami melihatnya sebagai peluang,” ujarnya.
Menurut Rio, hunian tipe 36 meter dapat diadaptasi melalui renovasi ringan menjadi dua ruang kelas kecil dan area operasional pusat belajar. Dalam skema kerja sama, Grit Prospera menyewa unit dengan harga di bawah nilai komersial, namun tetap memberikan arus kas langsung bagi pengembang.
Perusahaan juga menanggung seluruh biaya renovasi dan operasional awal, sehingga pengembang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan.
Dari sisi bisnis, Grit Prospera memproyeksikan setiap cabang GC Kids Center dapat mencapai titik impas pada bulan keempat dengan sekitar 42 siswa terdaftar.
Selain memberikan pendapatan sewa, kehadiran pusat belajar anak dinilai mampu meningkatkan daya tarik kawasan hunian dan mendorong penjualan unit lainnya.
Usai peluncuran di Bogor, Grit Prospera menargetkan ekspansi bertahap dengan membuka satu lokasi baru setiap bulan mulai Juli 2026, mencakup wilayah Depok dan Cibubur sebelum merambah kota-kota sekunder lainnya di Indonesia.
Periode 2026 – 2030 menjadi fase ekspansi agresif dengan target replikasi model di puluhan kota, berdasarkan tiga indikator utama yakni kepadatan keluarga muda kelas menengah, ketersediaan stok rumah kecil yang belum terserap, serta keterbatasan akses pendidikan pra-SD berkualitas.
“Kami tidak hanya membangun pusat belajar, tetapi juga menciptakan infrastruktur pendidikan berbasis ekosistem properti,” kata Rio.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












