Beranda Ekonomi Kadin dan Kemenkes Dorong Sektor Kesehatan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Kadin dan Kemenkes Dorong Sektor Kesehatan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin dalam kegiatan KADIN Monthly Economic Diplomatic Breakfast (K-MEd) yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (9/10). Foto: Kemenkes.

Publikbicara.com – Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin menilai sektor kesehatan berpotensi menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan nilai belanja mencapai sekitar US$40 miliar per tahun. Potensi tersebut dinilai dapat dioptimalkan melalui peningkatan investasi, penguatan industri kesehatan dalam negeri, dan kerja sama internasional.

Budi menyampaikan hal itu dalam KADIN Monthly Economic Diplomatic Breakfast (K-MEd) yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Budi, sektor kesehatan memiliki prospek pertumbuhan di atas 8 persen, termasuk dalam penciptaan lapangan kerja. Karena itu, sektor ini perlu dipandang sebagai peluang investasi yang mampu memberikan dampak ekonomi lebih luas, bukan semata-mata sebagai pos pengeluaran.

“Di sektor kesehatan itu opportunity-nya besar sekali. Itu salah satu sektor yang sebenarnya menjanjikan, bisa tumbuh di atas 8 persen, dan juga lapangan kerjanya bisa tumbuh di atas 8 persen. Oleh karena itu, kita bicara mengenai kesempatan investasi atau kerja sama dengan luar negeri,” ujar Budi dikutip dari laman Kemenkes.

Ia menjelaskan, peluang ekonomi sektor kesehatan dapat semakin besar apabila belanja kesehatan Indonesia meningkat hingga mendekati tingkat negara lain di kawasan. Budi menyebut, jika tingkat belanja kesehatan Indonesia setara dengan Malaysia, terdapat potensi tambahan belanja sekitar US$84 miliar. Sementara itu, apabila mencapai tingkat Singapura, potensinya diperkirakan sekitar US$840 miliar per tahun.

“Ini adalah peluang. Jadi, sektor kesehatan sebenarnya bukan biaya, melainkan investasi,” katanya.

Untuk merealisasikan potensi tersebut, pemerintah mendorong pengembangan industri kesehatan nasional agar pertumbuhan sektor ini tidak hanya bergantung pada belanja pemerintah. Investasi di dalam negeri diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri sekaligus memperluas manfaat ekonomi dan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

READ  Kemenkes dan BPOM Perkuat Pengawasan Obat

Selain membahas investasi kesehatan, Budi menyoroti pentingnya memperkuat suara negara-negara Global South dalam organisasi internasional. Ia mengatakan, negara-negara yang termasuk dalam kelompok tersebut mencakup lebih dari 60 persen populasi dunia, tetapi representasinya dalam berbagai organisasi internasional dinilai belum sebanding dengan jumlah penduduknya.

Budi menyebut dirinya diminta Presiden untuk maju mewakili kepentingan negara-negara Global South dalam tatanan internasional.

“Saya memang diminta oleh Bapak Presiden untuk maju mewakili Global South countries. Karena Global South countries ini lebih dari 60 persen populasi dunia adanya di Global South. Tetapi suara dan representasi kita di organisasi-organisasi internasional itu belum signifikan,” ujarnya.

Menurut Budi, pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa krisis kesehatan tidak dapat ditangani oleh satu negara secara mandiri. Keterhubungan masyarakat dunia menuntut setiap negara memperkuat koordinasi dan kolaborasi untuk menghadapi tantangan kesehatan bersama.

“Pengalaman kita waktu pandemi, tidak mungkin ada satu negara yang bisa selamat sendiri. Karena secara global, delapan miliar orang ini sudah saling terhubung. Itu sebabnya kita harus merangkul semua menjadi satu,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai sektor kesehatan dapat berkontribusi terhadap ambisi peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut bidang tersebut sebagai salah satu sektor strategis yang berpeluang membantu Indonesia meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 5 persen menuju 8 persen.

“Ketika kita berbicara tentang kesehatan, ini adalah sektor yang kami yakini dapat membantu Indonesia meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 5 persen menjadi 6 persen, 7 persen, hingga 8 persen,” ujar Anindya.

Anindya menambahkan, Kadin mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas diplomatik untuk mengoptimalkan peluang perdagangan serta investasi internasional. Sinergi ketiga pihak tersebut diharapkan dapat mendukung agenda pembangunan nasional sekaligus memperkuat kontribusi sektor kesehatan terhadap perekonomian Indonesia.(Red).

READ  Polisi Kantongi Ciri-ciri Pelaku Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakBukan Sekadar Silaturahmi, Rudy Susmanto Perkuat Komitmen Bersama Membangun Kabupaten Bogor
Artikulli tjetërPolda Lampung Bongkar Empat Kasus Dugaan Perdagangan Ilegal