Publikbicara.com – Ada ironi kecil di Kampung Jabal Rahmah, Desa Tapos 1, Kabupaten Bogor. Jawa Barat Indonesia.
Dimana, untuk membuat warga merasa lebih aman saat melintas di malam hari, yang dibutuhkan ternyata bukan proyek besar.
Bukan pula pembangunan yang menghabiskan anggaran fantastis. Cukup beberapa reflektor jalan. Sederhana sekali.
Justru karena sederhana, pertanyaannya menjadi lebih besar, mengapa hal sesederhana ini sering kali harus menunggu ada mahasiswa yang datang untuk mengerjakannya?

Kelompok KKM Universitas Islam Bogor (UIB) Kelompok 16 memilih memasang reflektor di sejumlah ruas jalan yang minim penerangan. Bersama perangkat desa dan masyarakat, mereka mencari titik-titik yang membutuhkan penanda tambahan.
Reflektor itu memang bukan solusi untuk semua persoalan penerangan jalan. Tetapi setidaknya, ia menunjukkan bahwa keselamatan warga bisa dimulai dari kepedulian terhadap hal-hal yang sering dianggap sepele.
Sebuah jalan gelap mungkin hanya dianggap sebagai pemandangan biasa oleh mereka yang tidak melewatinya setiap malam.
Tetapi bagi warga yang pulang kerja, anak muda yang pulang mengaji, atau siapa saja yang harus berkendara dalam gelap, minimnya penerangan adalah persoalan nyata.
Ketua KKM UIB Kelompok 16, M Faisal Rahmatullah, mengatakan pemasangan reflektor dilakukan agar warga lebih aman dan nyaman saat melintas pada malam hari.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada pesan yang seharusnya tidak sederhana: pelayanan dan pembangunan semestinya berangkat dari apa yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Mahasiswa datang bukan dengan solusi yang megah. Mereka datang dengan melihat persoalan yang ada di depan mata. Dan mungkin di situlah letak pelajarannya.
Pembangunan tidak selalu harus terlihat megah dalam foto. Kepedulian tidak selalu membutuhkan seremoni. Kadang ukurannya justru sesederhana: apakah seorang warga bisa melihat batas jalan ketika pulang malam?
Reflektor-reflektor itu akhirnya terpasang. Kecil, tetapi menyala ketika terkena cahaya kendaraan. Namun jangan sampai kita hanya melihat cahayanya, lalu lupa pada jalan yang masih gelap.
Sebab reflektor bukan akhir dari persoalan. Ia seharusnya menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk menghadirkan penerangan, keamanan, dan kenyamanan yang lebih layak bagi warga.
Mahasiswa mungkin hanya tinggal sementara di Kampung Jabal Rahmah. Tetapi semoga kepedulian yang mereka tinggalkan tidak ikut pergi bersama mereka.
Karena masyarakat tidak selalu membutuhkan janji besar. Kadang, mereka hanya ingin jalan pulang yang tidak terlalu gelap.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












