Publikbicara.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menyiapkan pengembangan transportasi berbasis rel untuk memperkuat konektivitas wilayah Bogor Barat. Dari dua alternatif trase yang dikaji, jalur Parung Panjang-Jasinga menjadi rute yang lebih direkomendasikan untuk dikembangkan.
Rencana tersebut menjadi bagian dari arah pembangunan transportasi Kabupaten Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Selain pengembangan kereta di Bogor Barat, Pemkab Bogor juga menyiapkan moda transportasi lain, termasuk kereta gantung di kawasan Puncak.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan pengembangan transportasi tidak semata-mata ditujukan untuk mengurai persoalan kemacetan. Infrastruktur transportasi juga dipandang sebagai instrumen untuk membuka akses wilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Pengembangan transportasi ini merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antarwilayah. Jadi bukan hanya di Puncak, tetapi juga bagaimana wilayah Bogor Barat memiliki dukungan transportasi massal melalui rencana kereta Tenjo-Jasinga,” kata Ajat.
Berdasarkan dokumen rencana pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, terdapat dua alternatif jalur yang disiapkan untuk Bogor Barat, yakni Tenjo-Jasinga dan Parung Panjang-Jasinga.
Trase Tenjo-Jasinga dirancang sepanjang 18,6 kilometer dengan tiga titik stasiun. Jalur tersebut melintasi wilayah Tenjo dan Jasinga, dengan sejumlah titik yang direncanakan berada di Tenjo, Kampung Singabraja, Pangaur hingga Jasinga.
Sementara trase Parung Panjang-Jasinga memiliki panjang sekitar 26,5 kilometer dengan enam titik stasiun. Rute ini dirancang melintasi Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Jasinga dan Tenjo.
Kedua jalur tersebut diarahkan untuk melayani mobilitas masyarakat sekaligus menjadi pengumpan menuju Stasiun Tenjo maupun Stasiun Parung Panjang. Dengan konsep tersebut, masyarakat Bogor Barat nantinya dapat terhubung dengan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek.
Namun, kajian awal Bapperida Kabupaten Bogor pada 2025 lebih merekomendasikan trase Parung Panjang-Jasinga. Rekomendasi tersebut diperoleh setelah penilaian terhadap 15 kriteria yang mencakup aspek teknis, ekonomi, sosial dan lingkungan.
Dalam kajian teknis, jalur Parung Panjang-Jasinga dirancang menggunakan konstruksi at grade atau berada di permukaan dengan jenis rel heavy rail. Panjang trase diperkirakan mencapai 27,26 kilometer.
Rencana tersebut mencakup enam stasiun baru dan satu stasiun eksisting di Parung Panjang. Waktu perjalanan kereta diproyeksikan sekitar 24 menit.
Selain itu, trase tersebut direncanakan memiliki enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan. Biaya operasional kereta dalam kajian diperkirakan berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per penumpang.
Pengembangan jalur Parung Panjang-Jasinga juga dikaitkan dengan rencana penataan kawasan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan sekaligus pengembangan kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD).
Sementara itu, Tenjo diarahkan untuk mendukung pengembangan stasiun barang serta memperkuat konektivitas jaringan transportasi antarkota dan perkotaan.
Ajat mengatakan pembangunan transportasi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan wilayah. Menurut dia, konektivitas yang semakin baik akan meningkatkan mobilitas sekaligus membuka peluang munculnya pusat-pusat ekonomi baru.
“Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah. Ketika konektivitasnya semakin baik, mobilitas masyarakat meningkat, pusat-pusat ekonomi baru tumbuh dan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.
Meski demikian, rencana pembangunan jalur kereta tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Sejumlah aspek yang harus dipastikan antara lain trase, kapasitas angkutan, keselamatan, kesesuaian tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, integrasi antarmoda hingga kelayakan investasi.
Dishub Kabupaten Bogor membagi tahapan pengembangan menjadi empat fase. Tahap pertama meliputi pra-studi kelayakan, penentuan trase indikatif dan konsultasi publik.
Tahap selanjutnya berupa studi kelayakan komprehensif, analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan desain awal. Setelah itu dilanjutkan dengan penyusunan detail engineering design (DED), penyiapan lahan dan pencarian skema pendanaan.
Tahap akhir mencakup pembangunan fisik, pengadaan sarana kereta, uji coba terbatas hingga pengoperasian penuh.
Ajat menegaskan seluruh tahapan tersebut harus dipersiapkan secara matang agar pembangunan transportasi tidak hanya menjawab kebutuhan mobilitas saat ini, tetapi juga mendukung arah pengembangan Kabupaten Bogor dalam jangka panjang.
“Semuanya harus dikaji secara komprehensif. Arahan Bupati adalah bagaimana kita menyiapkan transportasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi landasan pengembangan Kabupaten Bogor ke depan,” kata Ajat.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












