Beranda Daerah BRIN: Teknologi Iradiasi Jadi Kunci Kurangi Food Loss dan Dongkrak Ekspor Pertanian

BRIN: Teknologi Iradiasi Jadi Kunci Kurangi Food Loss dan Dongkrak Ekspor Pertanian

Teknologi iradiasi pangan dinilai menjadi solusi strategis untuk mengurangi kehilangan hasil (food loss), meningkatkan keamanan pangan, sekaligus memperkuat daya saing ekspor produk pertanian Indonesia. Foto: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai teknologi iradiasi pangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan kehilangan hasil (food loss), meningkatkan keamanan pangan, sekaligus memperkuat daya saing ekspor produk pertanian Indonesia. Teknologi ini dinilai mampu memperpanjang umur simpan produk, mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK), serta memenuhi persyaratan fitosanitari negara tujuan ekspor tanpa meninggalkan residu kimia.

Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKPEKM) BRIN, Agus Eko Nugroho, mengatakan tantangan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana meminimalkan kehilangan hasil setelah panen.

Menurut Agus, persoalan food loss merupakan tantangan global. Mengacu pada data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), sekitar 13 persen produk pangan dunia hilang pada tahap pascapanen hingga sebelum mencapai tingkat ritel dan konsumsi.

“Ketahanan pangan tidak hanya dipengaruhi oleh produksi, tetapi juga bagaimana kita mengurangi food loss dari produk pangan yang kita hasilkan. Permasalahan ini bukan hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga menjadi tantangan global. FAO memperkirakan sekitar 13% produk pangan dunia hilang pada tahap pascapanen hingga sebelum mencapai tingkat ritel dan konsumsi,” ujar Agus dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (23/7).

Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler (PREPS) BRIN, Pandu Laksono, mengungkapkan kerugian ekonomi akibat food loss dan food waste di Indonesia diperkirakan mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun setiap tahun. Komoditas hortikultura, terutama buah dan sayuran, menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kerusakan pascapanen.

READ  Gubernur Jawa Barat Serahkan Bonus Rp1 Miliar untuk Persib

Ia menjelaskan teknologi iradiasi menjadi alternatif penanganan yang efektif karena tidak menggunakan bahan kimia dan tidak meninggalkan residu berbahaya. Selain memperpanjang umur simpan, teknologi tersebut mampu menginaktivasi mikroba patogen serta memenuhi persyaratan fitosanitari yang diberlakukan negara tujuan ekspor.

Pandu menambahkan, analisis biaya dan manfaat menunjukkan penerapan iradiasi pada komoditas seperti salak, mangga, dan cabai dapat menekan risiko penolakan ekspor akibat serangan hama sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk.

Dari sisi regulasi, Direktur Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia (Barantin), Aprida Cristin, menyebut lalat buah masih menjadi salah satu hambatan utama ekspor buah tropis segar ke sejumlah negara seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Menurutnya, iradiasi telah diakui dalam standar internasional sebagai tindakan karantina fitosanitari yang efektif karena mampu menonaktifkan hama tanpa menurunkan mutu fisik buah.

“Badan Karantina Indonesia mendukung pemanfaatan teknologi iradiasi sebagai tindakan karantina fitosanitari sehingga persyaratan ekspor negara tujuan dapat dipenuhi,” kata Aprida.

Barantin, lanjutnya, juga terus menyiapkan dokumen teknis serta mendorong standardisasi fasilitas penyedia jasa iradiasi agar memenuhi standar internasional dan mendukung peningkatan ekspor produk pertanian nasional.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PRTPR) BRIN, Murni Indarwatmi, menjelaskan iradiasi fitosanitari memanfaatkan radiasi gamma, berkas elektron (electron beam), maupun sinar-X dengan dosis rendah pada produk yang telah dikemas.

Ia menegaskan produk yang telah melalui proses iradiasi aman dikonsumsi, tidak menjadi radioaktif, serta mampu menghentikan siklus reproduksi hama sehingga memenuhi persyaratan karantina ekspor.

Meski demikian, pengembangan teknologi ini masih menghadapi tantangan berupa terbatasnya fasilitas iradiasi komersial yang memenuhi standar karantina serta masih perlunya edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan pangan iradiasi.

READ  Bupati Bogor Hadiri Rapat APBD 2025–2026 Bersama Gubernur Jabar di Kemendagri

Kepala PREPS BRIN, Umi K. Yaumidin, menekankan keberhasilan pemanfaatan teknologi iradiasi membutuhkan kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, pelaku industri, dan eksportir agar manfaatnya semakin luas.

Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia, baik dari sisi produktivitas, daya simpan, keamanan pangan, maupun pemenuhan standar perdagangan internasional.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakLuka Menalo Bangga Dani Olmo Antar Spanyol Juara Dunia 2026
Artikulli tjetërKNPI Jasinga Prioritaskan Penguatan Karakter Pemuda dan Kedaulatan Pangan