Publikbicara.com – Ironis. Banyak orang begitu fasih membahas filsuf Yunani, metode penelitian Barat, hingga teori sejarah modern. Namun, ketika ditanya siapa R.A.A. Kusumahningrat atau Dalem Pancaniti, tak sedikit yang hanya menggelengkan kepala.
Padahal, jauh sebelum berbagai metode kajian modern diperkenalkan, tanah Sunda telah melahirkan seorang pemimpin, budayawan, sekaligus pemikir yang mewariskan konsep Pancaniti sebagai cara memahami ilmu secara utuh dan mendalam.
Hal itu disampaikan budayawan dan pemerhati sejarah Den Agung, yang menilai warisan intelektual leluhur Sunda justru sering terpinggirkan di negeri sendiri.
“Kita sering merasa lebih pintar ketika mengutip teori dari luar negeri, tetapi lupa bahwa leluhur kita juga memiliki metode berpikir yang luar biasa. Pancaniti bukan sekadar nama ruangan di Pendopo Cianjur, melainkan konsep intelektual yang hingga kini layak dijadikan pisau bedah dalam memahami sejarah,” ujar Den Agung. Selasa, (30/06/2026).

R.A.A. Kusumahningrat, yang lahir pada 1834 dengan nama Raden Hasan, dikenal sebagai Bupati Cianjur ke-10. Ia adalah pencetus seni Tembang Cianjuran dan orang Sunda pertama yang menyusun kamus dwibahasa Melayu-Sunda.
Julukan Dalem Pancaniti lahir karena kebiasaannya bekerja dan bertafakur di sebuah paviliun bernama Pancaniti di lingkungan Pendopo Cianjur. Dari ruang sederhana itulah lahir berbagai gagasan yang melampaui zamannya.
Menurut Den Agung, konsep Pancaniti bukan sekadar filosofi, melainkan metode pembelajaran yang mengajarkan seseorang untuk mengamati, memahami, menguji, dan menarik kesimpulan secara bijaksana sebelum menerima sebuah kebenaran.
“Kalau hari ini orang berlomba-lomba mencari metode untuk mengkaji sejarah, sesungguhnya leluhur Sunda telah meninggalkan panduannya. Persoalannya bukan tidak ada warisan, tetapi kita yang terlalu sibuk mengagumi warisan bangsa lain,” katanya.
Ia menambahkan, penghormatan kepada leluhur tidak cukup diwujudkan melalui seremoni atau unggahan media sosial setiap Hari Jadi daerah. Yang lebih penting adalah menggali, mengajarkan, dan menghidupkan kembali pemikiran para tokoh yang telah membangun peradaban.
“Jangan sampai kita bangga menyebut diri urang Sunda, tetapi asing terhadap pemikir besar Sunda. Itu bukan sekadar lupa sejarah, melainkan kehilangan jati diri,” tutur Den Agung.
Dalem Pancaniti wafat pada 1862 dan dimakamkan di Pasarean Agung, Cianjur. Perjuangannya kemudian diteruskan putranya, Raden Alibasyah atau R.A.A. Prawiradireja II, yang melanjutkan pengembangan Tembang Cianjuran.
Bagi Den Agung, sudah saatnya Dalem Pancaniti ditempatkan sebagai tokoh intelektual Nusantara, bukan hanya sebagai pelopor seni.
“Bangsa yang melupakan pemikirnya akan terus menjadi penonton sejarah. Sementara bangsa yang mengenal pemikir leluhurnya akan mampu menulis sejarahnya sendiri. Dalem Pancaniti telah memberi teladan itu, tinggal apakah kita masih mau belajar darinya atau terus sibuk mengagumi pemikiran orang lain,” pungkasnya.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












