Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan konsep valorizasi untuk mengubah limbah biomassa menjadi material berteknologi tinggi berbasis nanoselulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai biosurfaktan ramah lingkungan. Dok: Humas BRIN.
Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah biomassa menjadi material berteknologi tinggi berbasis nanoselulosa yang berpotensi digunakan sebagai biosurfaktan ramah lingkungan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Yulianti Sampora, mengatakan Indonesia memiliki sumber biomassa melimpah yang selama ini sebagian besar masih berakhir sebagai limbah bernilai ekonomi rendah dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Limbah yang tidak terkelola dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Melalui teknologi berbasis nano, kami memanfaatkan nanoselulosa untuk menghadirkan solusi inovatif,” ujarnya dalam Webinar Jejak Kimia Molekuler #9 yang diselenggarakan secara daring seperti dikutip dari laman BRIN, Kamis (18/6).
Menurutnya, penelitian memanfaatkan tiga sumber biomassa, yakni tandan kosong kelapa sawit (TKKS), pelepah nipah, serta limbah cair tahu yang memiliki kandungan selulosa dan dapat diolah menjadi material bernilai tambah.
Riset tersebut diawali dengan pengembangan nano paper biodegradable berbahan tandan kosong kelapa sawit. Material itu diperoleh melalui proses delignifikasi, bleaching, dan hidrolisis asam sulfat sehingga menghasilkan nanoselulosa dengan sifat termal dan mekanik yang tinggi.
BRIN juga mengisolasi bakteri penghasil selulosa dari limbah cair tahu melalui proses fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan asam fosfat sebagai agen hidrolisis menghasilkan rendemen lebih tinggi dibandingkan asam sulfat, sekaligus memberikan tingkat kristalinitas nanoselulosa yang lebih baik.
Yulianti menjelaskan nanoselulosa memiliki sifat sangat hidrofilik sehingga perlu dimodifikasi menjadi senyawa amfifilik agar dapat digunakan untuk berbagai aplikasi. Tim peneliti memanfaatkan teknik transvinilasi hijau menggunakan asam oleat dan vinil asetat untuk menghasilkan vinil oleat yang berfungsi sebagai jembatan kimia dalam proses hidrofobisasi nanoselulosa.
“Kami menggunakan teknik transvinilasi hijau dengan memanfaatkan asam oleat dan vinil asetat untuk menghasilkan vinil oleat sebagai jembatan kimia. Senyawa tersebut kemudian digunakan untuk menghidrofobisasi nanoselulosa sehingga dihasilkan material hibrida yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, tim peneliti mengembangkan superadsorben berbasis komposit nanoselulosa dan karbon aktif yang mampu menurunkan tingkat chemical oxygen demand (COD) hingga 92,5 persen. Material tersebut dinilai efektif untuk pengolahan air limbah.
Pengembangan nanoselulosa fungsional yang dilakukan BRIN sejalan dengan tren global dalam pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku berkelanjutan. Fokus riset diarahkan pada rekayasa antarmuka dan pengembangan biosurfaktan berbasis biomassa sebagai alternatif pengganti material berbasis petrokimia.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













