Publikbicara.com – Di Kabupaten Bogor bagian Barat, tepatnya di Kecamatan Jasinga yang jauh dari pusat ibu kota.
Ada sebuah cerita yang tampak timpang bila harus diselaraskan dengan wancana megah pemerintah tentang Ketahanan Pangan masa depan.
Bagai mana tidak, di wilayah tersebut ada Bendungan Sendung yang mebjadi kunci bagaimana pengelolaan agraria yang dapat memperkuat ketahanan pangan.
Ya, Bendungan Sendung, sebuah bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1938, seolah menjadi saksi bisu perjuangan agraria yang kini perlahan dilupakan.
Sebagai informasi, Bendungan Sendung yang berada diantara perbatasan Desa Sipak dan Desa Kalong Sawah di Kecamatan Jasinga, dibangun ini dibangun pada masa pra Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bangunan Bendungan Sendung yang dibangun pada tahun 1938 memiliki pungsi untuk mengaliri 610 hektare pesawahan yang ada di wilayah tersebut.
Kembali ke Bendungan Sendung, keberadaan yang memiliki history sejarah pada orang kemerdekaan tersebut kini kondisinya sangat memperihatinkan.
Berdasarkan penelusuran publikbicara, didapati bahwa kondisi aliran irigasi yang berhubungan dengan Bendungan Sendung perlu perhatian lebih dari pemerintah terkait.
“Didapati sejumlah tebing irigasi yang berada di sekitar wilayah hulu aliran irigasi Bendungan Sendung, yang menyuplai air ke ratusan hektar persawahan itu kurang mendapat perhatian.” redaksi, (01/01/2025).
Lebih lanjut, kondisi tebing di titik awal aliran irigasi, yang berada di Bendungan Sendung, menjadi sorotan warga di Kampung Parungsapi RW:10, Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, salah satu warga yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa perawatan irigasi yang mengaliri ratusan hektar persawahan di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Jasinga saat ini tidak sebaik seperti dahulu.

Pada era 1990-an, aliran irigasi Bendungan Sendung terlihat lebih teratur, terjaga, dan terawat lantaran pada masa itu, petugas irigasi yang bernama Ki Durahim sangat memperhatikan kualitas aliran irigasi ini.
“Zaman Ki Durahim, pengurus irigasi Sendung sangat baik. Bahkan, petugas irigasi itu tinggal di atas dekat pintu air bendungan Sendung,” tutur warga setempat menceritakan kisahnya.
“Kemudian ada Mantri Sapri, Mantri Anis, dan terakhir Pak Ata. Tapi sekarang, kami tidak tahu siapa yang bertanggung jawab. Intinya, ada perbedaan antara dulu dan sekarang, itulah sebabnya kondisinya seperti ini,” beber warga.
Ironi ini akan menggambarkan ketidaksinkronan antara visi besar pemerintah dan pelaksanaan di lapangan apabila Bendungan Sendung yang memiliki history sejarah panjang tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai aset strategis untuk masa depan.
Redaksi meyakni, jika terus dibiarkan tanpa perbaikan, bukan hanya infrastruktur yang hancur, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap janji-janji pemerintah pun akan turut pudar.
Kisah Bendungan Sendung adalah cerminan dari tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Ketahanan pangan tidak bisa hanya menjadi wacana, ia harus diwujudkan dengan perhatian nyata terhadap infrastruktur dasar yang menopangnya.
Apakah pemerintah akan membiarkan Bendungan Sendung perlahan tenggelam dalam keterlupakan, atau justru menjadikannya simbol kebangkitan pertanian di Kabupaten Bogor?***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













