Beranda Daerah Pemerintah Buka 25 Prodi PPDS Baru, Dokter Daerah 3T Jadi Sasaran Utama

Pemerintah Buka 25 Prodi PPDS Baru, Dokter Daerah 3T Jadi Sasaran Utama

Rapat Tingkat Menteri di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, pada Senin (31/8). Foto: Kemenkes 

Publikbicara.com – Pemerintah memperluas pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit atau hospital-based dengan menerbitkan izin operasional bagi 25 program studi (prodi) baru Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Kebijakan tersebut diarahkan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis sekaligus memperkuat layanan kesehatan di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurrahman mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah merespons kekurangan tenaga dokter spesialis yang masih mencapai sekitar 65.000 orang.

Hal itu disampaikan Dudung seusai memimpin Rapat Tingkat Menteri di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Senin (31/8).

“Ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari kebutuhan saudara-saudara kita di daerah, pulau terluar, hingga ke kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T),” ujar Dudung.

Menurutnya, pengembangan PPDS berbasis rumah sakit menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mempercepat produksi dokter spesialis tanpa mengesampingkan standar kompetensi pendidikan.

PPDS hospital-based merupakan pendidikan dokter spesialis yang diselenggarakan langsung di rumah sakit pendidikan yang ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU). Rumah sakit tersebut bermitra dengan perguruan tinggi serta berkolaborasi dengan kolegium terkait.

Program ini sebelumnya mulai dijalankan pada 2024 di enam rumah sakit. Dengan tambahan 25 prodi pada tahap pertama 2026, jumlah PPDS RSPPU kini mencapai 31 prodi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, 25 prodi baru yang mendapatkan izin pada tahap pertama 2026 terdiri atas 11 prodi spesialis dasar dan 14 prodi dalam rumpun Kanker, Jantung, Stroke, Uronefrologi (KJSU) serta spesialis unggulan lainnya.

“Pada tahap kedua tahun 2026, sebanyak 30 Program Studi Spesialis juga akan didorong memperoleh izin penyelenggaraan pada Oktober 2026, terdiri atas 13 Prodi Spesialis Dasar dan 17 Prodi Spesialis KJSU,” kata Budi.

READ  Libur Akhir Tahun, Kemenpar Tawarkan Puluhan Paket Wisata dan Event Kurasi Nasional

Dengan demikian, ekspansi PPDS berbasis rumah sakit tidak berhenti pada 25 prodi yang diluncurkan pada tahap pertama. Pemerintah menargetkan penambahan 30 prodi lainnya pada Oktober mendatang.

Prioritaskan Dokter untuk Daerah

Pemerintah juga menyiapkan skema yang secara khusus memberikan keberpihakan kepada putra-putri daerah. Salah satu mekanismenya adalah penempatan kerja setelah pendidikan yang telah ditentukan sejak awal.

Skema tersebut ditujukan agar lulusan PPDS tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, tetapi dapat mengisi kekosongan dokter spesialis di wilayah yang menjadi prioritas nasional.

Selain aspek pemerataan, pemerintah menyebut pembiayaan pendidikan PPDS dirancang lebih terjangkau. Kontribusi biaya penyelenggaraan PPDS, baik untuk prodi yang sudah berjalan maupun prodi baru, diberlakukan secara resiprokal antara rumah sakit pendidikan dan perguruan tinggi mitra.

Seleksi peserta didik untuk 25 prodi baru tersebut dijadwalkan resmi diluncurkan pada Kamis, 3 September 2026.

Sebanyak 25 prodi baru itu bermitra dengan sembilan perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Udayana (UNUD), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Indonesia (UI).

Sebaran 25 Prodi Baru

Untuk 11 prodi spesialis dasar, pemerintah membuka Anestesiologi dan Terapi Intensif di RSUP Fatmawati, RS Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta, dan RSU Hermina Depok.

Program Obstetri dan Ginekologi tersedia di RSAB Harapan Kita dan RSIA Bunda Jakarta. Sementara Radiologi dibuka di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, RSUP Persahabatan, dan RSUP Dr. M. Djamil.

Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Kesehatan Anak diselenggarakan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Adapun Ilmu Bedah dibuka di RSUD dr. Iskak Tulungagung.

READ  Tekan Polusi Udara, DLHK Depok Uji Emisi 223 Kendaraan di Balai Kota

Untuk rumpun KJSU dan spesialis unggulan lainnya, pemerintah membuka Bedah Saraf di RS Pusat Otak Nasional dan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.

Bedah Thorax Kardiovaskuler tersedia di RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr. Saiful Anwar. Program Urologi dibuka di RSUD Dr. Moewardi dan RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah.

Program Jantung dan Pembuluh Darah tersedia di RSUP Dr. Mohammad Hoesin, RSU Murni Teguh Memorial Hospital, dan RSUD dr. Soedarso.

Ekspansi juga mencakup Kedokteran Nuklir di RSUP Dr. Kariadi, Kesehatan Mata di Jakarta Eye Centre (JEC) Kedoya, serta Orthopaedi dan Traumatologi di RSD dr. Soebandi, RSPAD Gatot Soebroto, dan RS Islam Jakarta Cempaka Putih.

Pemerintah menilai perluasan PPDS berbasis rumah sakit menjadi langkah penting untuk mempercepat pemerataan dokter spesialis. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah lulusan, tetapi juga memastikan distribusi tenaga medis mengikuti kebutuhan pelayanan kesehatan nasional.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakAde Ruhandi Ingatkan Warga Tenjo, Pembangunan Jangan Geser Budaya dan Kehidupan Keagamaan
Artikulli tjetërKapolri Mutasi 424 Perwira, Sejumlah Jabatan Strategis Polri Berganti