Beranda Daerah Bukan Hanya Urusan Ibu, Wamenkes Dorong Gerakan “Ayah Siaga” di 1.000 HPK

Bukan Hanya Urusan Ibu, Wamenkes Dorong Gerakan “Ayah Siaga” di 1.000 HPK

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI saat melakukan kerja ke Kota Bogor, untuk meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah dan program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), Jumat (28/8). Foto: Kemenkes.

Publikbicara.com – Urusan kesehatan dan pemenuhan gizi anak tidak bisa lagi dibebankan kepada ibu seorang diri. Peran ayah dinilai sama pentingnya, terutama pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi periode krusial bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Bogor, Jumat (28/8). Dalam kunjungan tersebut, Dante meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah sekaligus program 1.000 HPK.

Menurut Dante, masa 1.000 HPK berlangsung sejak 270 hari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau sekitar 730 hari setelah kelahiran. Pada periode tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga pemenuhan gizi dan kesehatan menjadi investasi penting bagi masa depan anak.

“Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting,” kata Dante dikutip dari laman resmi Kemenkes, Sabtu (29/8).

Karena itu, pemerintah tidak hanya mendorong kesiapan ibu, tetapi juga keterlibatan aktif ayah melalui Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan.

Dante menyebut gerakan tersebut diharapkan melahirkan sosok “Ayah Siaga” yang tidak hanya hadir ketika proses persalinan, tetapi ikut bertanggung jawab terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupannya.

“Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat,” ujarnya.

READ  Ajang Special Kids Expo Tahun 2025 Resmi Dibuka 

Pemerintah sendiri menetapkan empat sasaran intervensi utama dalam program 1.000 HPK. Pertama, fase sebelum kehamilan melalui peningkatan kesehatan remaja putri serta skrining calon pengantin dan pasangan usia subur.

Kedua, masa kehamilan, persalinan, hingga bayi baru lahir dengan memastikan ibu memperoleh pemeriksaan kehamilan, termasuk USG, serta menjalani persalinan di fasilitas kesehatan yang aman.

Ketiga, periode anak bawah dua tahun (baduta), yang diarahkan pada pemberian ASI eksklusif, pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Keempat, penguatan layanan kesehatan dengan memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki kesiapan fasilitas sekaligus dukungan pembiayaan.

Dante menegaskan, keberhasilan seluruh intervensi tersebut membutuhkan dukungan keluarga. Sebab, program kesehatan pemerintah pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi kebiasaan dan pola pengasuhan di dalam rumah.

Pesan serupa disampaikan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan. Menurutnya, kualitas kesehatan dan pendidikan anak sangat berkaitan dengan kekuatan fondasi keluarga.

Ia menilai kesibukan orang tua maupun anak kerap membuat interaksi keluarga semakin terbatas. Karena itu, Veronica mendorong orang tua menyediakan waktu berkualitas bersama anak.

“Yang terpenting adalah membangun quality time antara bapak, ibu, dan anak,” kata Veronica.

Ia juga mengingatkan pentingnya kembali membangun kebiasaan makan makanan rumahan sebagai bagian dari pola hidup sehat keluarga, dibandingkan terlalu mengandalkan makanan instan.

Kunjungan lintas sektor tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza, Sekretaris Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Imam Machdi, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Ade Kadarisman, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Sebelum mengikuti dialog interaktif, rombongan meninjau sejumlah layanan kesehatan dan pendidikan di Kota Bogor.

READ  SEAMEO RECFON Komitmen Bersama Perkuat Sektor Pendidikan, Kesehatan dan Gizi 

Kegiatan diawali di Puskesmas Tanah Sareal dengan melihat pelayanan pemeriksaan rutin ibu hamil atau Antenatal Care (ANC), pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak baduta, serta pelayanan imunisasi bayi.

Rombongan kemudian meninjau tes kebugaran siswa dan pelaksanaan CKG Anak Sekolah di SMPN 5 Kota Bogor.

Dari rangkaian kunjungan tersebut, pesan yang dibawa pemerintah cukup jelas: pencegahan stunting dan pembangunan kualitas manusia tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, melainkan jauh lebih awal bahkan sejak remaja, masa persiapan pernikahan, kehamilan, hingga dua tahun pertama kehidupan.

Dan pada fase tersebut, ayah tidak cukup hanya menjadi pendamping. Ia dituntut hadir sebagai bagian aktif dari tumbuh kembang anak.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakBRIN dan Polman Bandung Perkuat Riset Robotika untuk Teknologi Inspeksi
Artikulli tjetërDukcapil Family Fest 2026 Kembali Digelar, Warga Bogor Bisa Urus Adminduk di Mal