Ilustrasi logo MUI. Foto: MUI Digital.
Publikbicara.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyambut positif tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran.
MUI menilai kesepakatan tersebut tidak hanya penting untuk meredakan ketegangan kedua negara, tetapi juga harus menjadi momentum bagi terciptanya stabilitas kawasan Timur Tengah dan penghentian berbagai konflik kemanusiaan yang masih berlangsung.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI), Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan perdamaian antara Washington dan Teheran diharapkan mampu mencegah eskalasi konflik yang lebih luas serta membuka jalan bagi perdamaian dunia yang berkelanjutan.
“Saya sangat berharap hal ini dapat mengakhiri ketegangan, mencegah eskalasi konflik, serta membuka jalan bagi terciptanya stabilitas keamanan kawasan dan perdamaian dunia yang lebih berkelanjutan, termasuk menghalangi kejahatan Zionis Israel kepada warga Gaza dan Palestina secara keseluruhan,” ujar Prof Sudarnoto dikutip dari laman MUI Digital, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, penyelesaian sengketa melalui dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara harus menjadi prinsip utama dalam menjaga stabilitas global.
Ia menegaskan bahwa perdamaian merupakan nilai universal yang sejalan dengan ajaran Islam dan amanat yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Sudarnoto menilai sedikitnya ada lima manfaat strategis dari kesepakatan damai tersebut.
Pertama, mencegah meluasnya perang yang berpotensi menimbulkan korban jiwa dan krisis kemanusiaan di Timur Tengah. Kedua, menjamin keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan dan distribusi energi dunia.
Ketiga, meredam gejolak harga minyak dan energi global yang selama ini dipengaruhi ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Keempat, menjaga stabilitas perekonomian dunia agar tidak terdampak gangguan pasokan energi dan perdagangan internasional. Kelima, membuka ruang yang lebih besar bagi pembangunan dan kerja sama ekonomi dibandingkan pengeluaran untuk konflik maupun perlombaan persenjataan.
Ia menegaskan, kesepakatan damai tersebut harus menjadi fondasi bagi terbentuknya sistem keamanan kawasan yang lebih adil, inklusif dan berkelanjutan.
“Hemat saya, perjanjian damai ini harus menjadi titik awal bagi terciptanya arsitektur keamanan kawasan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan, bukan sekadar menjanjikan konflik yang bersifat sementara,” katanya.
Untuk memastikan perdamaian berjalan efektif, MUI mendorong seluruh pihak mematuhi isi kesepakatan secara konsisten dan menghindari tindakan yang dapat memicu ketegangan baru. Selain itu, MUI juga meminta dibentuknya mekanisme dialog permanen antarnegara serta keterlibatan aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam mengawal implementasi perjanjian secara transparan.
Sudarnoto juga menaruh harapan besar agar kesepakatan damai AS-Iran dapat menjadi pintu masuk bagi penyelesaian konflik-konflik lain di kawasan, terutama di Palestina.
Ia mendesak agar momentum diplomasi tersebut diikuti langkah konkret untuk menghentikan kekerasan, membuka akses bantuan kemanusiaan, melindungi warga sipil, serta mendorong penyelesaian politik yang adil bagi rakyat Palestina.
“Perdamaian yang sejati tidak dapat diwujudkan apabila kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata terhadap warga sipil masih terus berlangsung,” tegasnya.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













