Publikbicara.com – Di balik peringatan Hari Otonomi Daerah (Otoda) yang jatuh setiap 25 April, kondisi Jasinga menunjukkan ironi yang mencolok.
Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Bogor menilai bahwa Jasinga bukan sekadar sebuah wilayah administratifl.
Melainkan kawasan dengan sejarah panjang yang kini terancam hilang akibat minimnya perhatian pemerintah dan masyarakat.

Sejarah Jasinga yang kaya seharusnya menjadi kebanggaan, bukan justru terbengkalai.
Bukti-bukti sejarah seperti Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga telah hancur, menghilangkan jejak kejayaan masa lalu yang seharusnya dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain itu, ribuan artefak berupa nisan kuno yang tersebar luas di wilayah ini pun nyaris tak terurus, mencerminkan ketidakpedulian terhadap warisan budaya yang tak ternilai.

Ironisnya, Hari Otonomi Daerah sebentar lagi akan diperingati dengan tujuan mendorong kemandirian dan penguatan peran pemerintah daerah dalam melayani masyarakat.
Namun, kenyataan di Jasinga menunjukkan bahwa kebijakan desentralisasi ini belum sepenuhnya berpihak pada pelestarian sejarah dan budaya lokal.
Otonomi daerah seharusnya bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang menjaga dan merawat identitas budaya yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.
Pemerintah Kabupaten Bogor harus segera mengambil langkah konkret dalam upaya penyelamatan warisan sejarah Jasinga.
Dibutuhkan kebijakan yang lebih serius, baik dalam bentuk regulasi maupun anggaran, untuk memastikan situs-situs bersejarah tetap lestari dan tidak punah ditelan zaman.
Selain itu, kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan agar mereka turut serta dalam menjaga dan merawat peninggalan leluhur.
Otonomi daerah seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk lebih mandiri dalam mengelola dan melestarikan potensi wilayahnya, termasuk dalam aspek budaya dan sejarah.
Jangan sampai, di tengah semangat desentralisasi, warisan berharga Jasinga justru semakin hilang tanpa jejak.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













