Beranda Daerah Bukan Sekadar Pusaka, Warisan Keraton Nusantara Dibidik Jadi Produk Kreatif

Bukan Sekadar Pusaka, Warisan Keraton Nusantara Dibidik Jadi Produk Kreatif

Publikbicara.com – Warisan keraton Nusantara dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui pengolahan cerita sejarah, pusaka, dan tradisi menjadi karya kreatif tanpa mengabaikan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan hal tersebut saat membuka Sarasehan Nasional Keraton Nusantara dan Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) 2026 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Teuku Riefky, kekayaan sejarah dan tradisi keraton dapat dikembangkan menjadi beragam produk, mulai dari film hingga cendera mata. Upaya ini dinilai dapat mempertemukan kepentingan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat.

“Warisan keraton tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Cerita, pusaka, dan tradisi yang diwariskan dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif, mulai dari film hingga cendera mata,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengembangan potensi tersebut membutuhkan kerja sama lintas kementerian agar pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi.

Kementerian Kebudayaan berperan dalam pelestarian dan revitalisasi keraton, sedangkan Kementerian Pariwisata dapat mengembangkan destinasi berbasis sejarah. Sementara itu, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong produksi karya kreatif dan produk komersial, dengan dukungan Kementerian Koperasi dalam pengelolaan usaha hingga pemasaran.

Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya revitalisasi keraton, istana kerajaan, dan museum sebagai pusat pemajuan kebudayaan. Menurutnya, pembenahan bangunan bersejarah perlu disertai penataan pameran serta pengelolaan koleksi agar informasi sejarah lebih mudah diakses masyarakat.

Fadli juga melihat peluang pengembangan produk turunan dari kekayaan budaya, termasuk cendera mata khas dan kuliner yang bersumber dari resep tradisional.

READ  Jejak Musik Sunda Antar Bogor Jadi Titik Awal FMTI 2026

“Kita ingin keraton, istana, dan museum menjadi pusat kegiatan budaya yang semakin hidup dan menarik untuk dikunjungi. Potensinya tidak berhenti pada koleksi sejarah, tetapi juga mencakup pengembangan cendera mata yang khas serta kuliner berbasis resep tradisional,” kata Fadli.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif diperlukan untuk menghasilkan produk yang memiliki karakter budaya sekaligus nilai ekonomi.

Selain pengembangan ekonomi kreatif, pendokumentasian sejarah dan identitas kerajaan Nusantara menjadi salah satu agenda yang disoroti dalam forum tersebut.

Ketua Umum FSKN, A.A. Mapparessa Karaeng Turikale VIII Maros, menyebut pendataan keraton dan kerajaan perlu disusun secara lebih komprehensif. FSKN mengusulkan penyusunan ensiklopedia yang mencakup asal-usul kerajaan, silsilah, tradisi, serta aset budaya berwujud dan tidak berwujud.

Menurut Mapparessa, dokumentasi yang terstruktur dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan, menentukan prioritas pelestarian, dan memberikan dukungan kepada keraton di berbagai daerah.

“Kami mengusulkan agar pendataan keraton dan kerajaan Nusantara tidak berhenti pada kodifikasi, tetapi dikembangkan menjadi ensiklopedia yang lebih lengkap dan komprehensif,” ungkapnya.

Ia mengatakan, para raja, sultan, dan pemangku adat siap mendukung proses pendokumentasian karena memiliki pengetahuan langsung mengenai sejarah dan tradisi yang diwariskan.

Sarasehan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara FSKN 2026 yang berlangsung pada 15 – 18 Oktober 2026 secara hibrida di Jakarta. Forum ini turut membahas perlindungan kelembagaan keraton, revitalisasi aset budaya, serta penyelenggaraan festival yang melibatkan kerajaan dan masyarakat adat.

Sebagai tindak lanjut, Teuku Riefky meminta FSKN menyusun rencana kerja untuk dibahas bersama kementerian terkait dan pemerintah daerah.

Rencana tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan produk kreatif berbasis sejarah dan tradisi keraton sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.(Red).

READ  Tenun Nusantara Naik Kelas, Menteri Ekraf Dorong Perajin Tembus Pasar Global

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakRudy Susmanto Raih Metropolitan Awards 2026, Dedikasikan Penghargaan untuk Masyarakat Bogor
Artikulli tjetërPOBSI Kota Bogor Gelar Turnamen 9 Ball Antarinstansi, Tim Setda A Keluar sebagai Juara