Publikbicara.com – Suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung kembali memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Fenomena tersebut ternyata dapat dikaitkan dengan kondisi atmosfer tertentu, salah satunya keberadaan lapisan inversi suhu.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan lapisan inversi merupakan kondisi ketika udara dingin berada di bawah lapisan udara yang lebih hangat. Kondisi ini berbeda dengan keadaan atmosfer normal, ketika suhu udara cenderung semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian.
Menurut Daryono, lapisan udara hangat tersebut dapat berperan seperti tudung yang menahan udara, gas, maupun gelombang suara yang berasal dari permukaan bumi.
“Dalam kondisi inversi suhu, gelombang suara akan dibiaskan ke bawah sehingga dapat terdengar pada jarak yang sangat jauh,” demikian penjelasan Daryono dalam keterangannya, Sabtu (5/9).
Fenomena tersebut membuat suara dari berbagai sumber, seperti kereta api, kendaraan, petir maupun ledakan, dapat terdengar lebih kuat dan menjangkau wilayah yang lebih jauh dibandingkan kondisi atmosfer normal.
Lapisan inversi dapat menyebabkan gelombang suara tidak menyebar secara bebas ke atmosfer. Gelombang tersebut justru dapat dibiaskan kembali ke arah permukaan dan mengalami pantulan berulang.
Kondisi itu membuat atmosfer seolah membentuk sebuah kanal yang membantu suara menjalar lebih jauh. Dalam istilah akustik atmosfer, mekanisme tersebut memiliki kemiripan dengan fenomena tropospheric ducting.
Daryono menyebut fenomena tersebut juga dapat menjelaskan mengapa suara letusan atau ledakan yang berasal dari lokasi yang sangat jauh dapat terdengar dengan karakter berbeda ketika sampai ke suatu wilayah.
“Suara letusan jika sudah jauh dan dalam kondisi atmosfer tertentu dapat berubah ‘anatominya’ sehingga tidak lagi seperti suara petir asli di sumbernya, tetapi dapat mirip dentuman,” jelasnya.
Menurut dia, kemampuan lapisan inversi dalam membelokkan gelombang akustik juga dapat terjadi pada gelombang mekanik dan gelombang kejut. Dalam kondisi tertentu, efeknya dapat membuat suara maupun getaran menjangkau wilayah yang lebih luas.
Fenomena serupa pernah dikaitkan dengan sejumlah peristiwa ledakan. Salah satunya terjadi dalam uji coba nuklir Uni Soviet di Semipalatinsk pada 22 November 1955. Ledakan RDS-37 berkekuatan sekitar 1,6 megaton TNT dilaporkan menimbulkan dampak pada bangunan di Kurchatov yang berjarak sekitar 65 kilometer.
Daryono juga menyinggung kejadian ledakan saat produksi program Mythbusters di Esparto, California, pada 6 Desember 2011. Gelombang kejut dari ledakan tersebut menyebabkan kaca rumah warga di wilayah yang berjarak lebih dari dua kilometer dari lokasi sumber ledakan pecah.
Menurut Daryono, topografi suatu wilayah turut memengaruhi terbentuknya lapisan inversi. Udara dingin dapat terakumulasi di kawasan cekungan atau lembah, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung.
Cekungan Bandung menjadi salah satu wilayah yang memiliki karakter topografi tersebut. Kawasan Bandung dikelilingi pegunungan sehingga udara dingin dapat terperangkap di bagian cekungan pada kondisi cuaca tertentu.
Ketika lapisan inversi terbentuk, kondisi tersebut dapat membuat suara menjalar mengikuti bentuk kawasan dan terdengar lebih jauh.
Daryono bahkan menggambarkan kondisi Cekungan Bandung yang tertutup lapisan inversi seperti sebuah “lorong raksasa”. Dalam kondisi tertentu, sumber suara dari lokasi yang jauh dapat terdengar hingga Bandung karena gelombang akustiknya mengalami pembiasan dan pantulan di atmosfer.
Ia menyebut aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda sebagai salah satu sumber suara yang secara teori dapat menjalar jauh apabila kondisi atmosfer mendukung.
Dengan demikian, suara dentuman yang terdengar di Bandung tidak serta-merta menunjukkan adanya ledakan di sekitar wilayah tersebut. Kondisi atmosfer, sumber suara, jarak, serta topografi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan untuk mengungkap asal suara tersebut.
Meski demikian, penentuan sumber pasti sebuah dentuman tetap membutuhkan data dan analisis lebih lanjut, termasuk informasi seismik, meteorologi, maupun rekaman suara dari berbagai lokasi.
Fenomena lapisan inversi pada akhirnya menunjukkan bahwa atmosfer tidak hanya berpengaruh terhadap cuaca dan kualitas udara, tetapi juga dapat menentukan sejauh mana sebuah suara terdengar dari sumbernya.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












