Beranda Nasional BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Halal Cepat untuk Dukung Industri

BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Halal Cepat untuk Dukung Industri

Kegiatan BRIN Goes to Society: Riset dan Inovasi Halal, di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (29/6/2026). Dok: Humas BRIN.

Publikbicara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pengembangan ekosistem halal nasional melalui riset dan inovasi yang mencakup teknologi deteksi halal, pengembangan pangan, peternakan, hingga pencarian bahan baku alternatif untuk industri.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan BRIN Goes to Society: Riset dan Inovasi Halal di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (29/6).

Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Ratih Asmana Ningrum, mengatakan pihaknya tengah mengembangkan teknologi deteksi halal berbasis DNA menggunakan metode real-time polymerase chain reaction (PCR) dan loop-mediated isothermal amplification (LAMP). Teknologi ini dirancang agar mampu mendeteksi kandungan bahan non-halal secara cepat, sensitif, dan mudah digunakan.

“Inovasi ini diharapkan dapat menghasilkan kit deteksi yang cepat, sensitif, spesifik, dan mudah digunakan, bahkan tanpa memerlukan fasilitas laboratorium yang lengkap,” kata Ratih dikutip dari laman resmi BRIN.

Di bidang pangan, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Andi Febrisiantosa, menjelaskan penelitian difokuskan pada autentikasi produk halal berbasis teknologi omics, seperti proteomik dan metabolomik.

Selain itu, BRIN juga mengembangkan bahan substitusi untuk menggantikan bahan impor non-halal, termasuk gelatin berbasis babi, dengan alternatif yang berasal dari sumber daya laut dan tumbuhan.

“Indonesia memiliki sumber daya laut yang melimpah dan pada dasarnya halal. Ini menjadi modal besar untuk mengembangkan produk pangan halal,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyoroti pentingnya menjamin kehalalan pakan ternak.

Menurutnya, penggunaan meat and bone meal (MBM) berpotensi mengalami kontaminasi bahan non-halal sehingga BRIN mengembangkan alternatif berupa tepung ikan dan mikroalga.

READ  Terkait RUU Perampasan Aset, Ini Penjelasan Dasco

Ia menegaskan inovasi halal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap syariat, tetapi juga mendukung keamanan pangan, kualitas produk, dan keberlanjutan sistem pangan nasional.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan BRIN menerapkan prinsip zero tolerance terhadap kontaminasi bahan non-halal dalam riset pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan bahan berbasis bioteknologi, seperti enzim, mikroba, serta bahan tambahan pangan berupa pewarna dan perasa yang terjamin kehalalannya.

Selain riset, BRIN juga mendorong penguatan regulasi dan sistem perizinan halal agar mampu menopang sistem jaminan produk halal yang aman dan berdaya saing.

Di sisi lain, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamuraby Rozak, menilai penguatan ekosistem halal nasional membutuhkan kolaborasi antara lembaga riset, ulama, lembaga pemeriksa halal, dan pelaku industri.

Menurutnya, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang mencapai sekitar 120 ribu jenis flora dan fauna menjadi potensi besar untuk menghasilkan bahan baku halal yang dapat menggantikan produk impor sekaligus meningkatkan daya saing industri halal nasional.

Dalam kegiatan tersebut, BRIN juga menghadirkan pelaku industri untuk berbagi pengalaman, di antaranya Dewan Serat Indonesia yang mengembangkan serat daun nanas sebagai bahan baku tekstil halal dan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) yang mendorong hilirisasi hasil riset menjadi produk inovatif.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakGebyar UMKM HJB ke-544 Jadi Motor Penggerak Ekonomi Lokal Kabupaten Bogor
Artikulli tjetërJejak Darah Ratu Shima: Dari Sunda, Galuh hingga Sriwijaya Ternyata Satu Garis Keturunan