Beranda Ekonomi APINDO Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Minyak dan Tekanan Ekonomi Akibat Konflik Timur...

APINDO Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Minyak dan Tekanan Ekonomi Akibat Konflik Timur Tengah

Foto: Israel Serang Iran, Ledakan Bikin Warga Berlarian (via REUTERS/WANA).

Publikbicara.com – Kalangan dunia usaha di Indonesia mulai mewaspadai dampak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berpotensi menekan perekonomian global. Kekhawatiran tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, terkait potensi lonjakan harga energi hingga gangguan rantai perdagangan dunia.

Mengutip laporan detikcom, Shinta menilai risiko utama dari konflik di kawasan Timur Tengah bukan hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga potensi gangguan jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Jalur tersebut menjadi salah satu titik vital perdagangan energi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.

“Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas serta kenaikan biaya logistik internasional,” ujar Shinta, Senin (9/3).

Menurutnya, meski jalur perdagangan belum ditutup secara fisik, ketidakpastian geopolitik saja sudah cukup memicu lonjakan harga energi dan biaya logistik di pasar global.

Sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan tambahan apabila harga energi dunia naik melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi sekaligus mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Selain sektor energi, APINDO juga menyoroti potensi rambatan terhadap inflasi pangan. Kenaikan harga energi dinilai akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi komoditas pangan.

Jika disertai gangguan pasokan global atau pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan tersebut dapat mempercepat kenaikan harga bahan pokok di dalam negeri.

Dari sisi fiskal, tingginya harga energi juga berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi. Karena itu, APINDO menilai pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal agar defisit anggaran tetap terkendali dan tidak menimbulkan tekanan terhadap pembiayaan utang negara.

READ  Gugur sebagai Pahlawan Kemanusiaan: Direktur RS Indonesia di Gaza, dr. Marwan Al-Sultan, Tewas dalam Serangan Brutal Israel

Shinta juga mengingatkan bahwa ketidakpastian global dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar.

Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor energi maupun pangan sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Di sektor usaha, dampak konflik diperkirakan paling terasa pada industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi dan logistik internasional.

Sektor padat karya juga dinilai rentan karena memiliki margin yang tipis serta sensitif terhadap kenaikan biaya produksi.

Meski hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran maupun Israel relatif kecil, APINDO menilai dampak tidak langsung melalui harga energi global, inflasi pangan, hingga sentimen pasar keuangan jauh lebih berpengaruh terhadap dunia usaha nasional.

Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, pelaku usaha saat ini mengambil sejumlah langkah mitigasi, mulai dari penyesuaian biaya produksi, peningkatan efisiensi operasional, hingga diversifikasi sumber pasokan.

“Secara keseluruhan dunia usaha mengambil sikap wait and see, namun tetap bersiap apabila tekanan global berlanjut,” kata Shinta.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakPemkab Bogor Tertibkan Pembuangan Sampah Liar di Desa Kopo