Beranda Hukum Darurat Nasional 30 Hari, Guatemala Lumpuh Diteror Kekerasan Geng

Darurat Nasional 30 Hari, Guatemala Lumpuh Diteror Kekerasan Geng

Anggota Divisi Pasukan Khusus Kepolisian Guatemala (FEP) ditempatkan di pintu masuk penjara pria Guatemala City / (AFP/EDWIN BERCIAN).

Publikbicara.com – Pemerintah Guatemala menetapkan status darurat nasional selama 30 hari menyusul gelombang kekerasan geng yang menewaskan sembilan anggota kepolisian dan memicu kerusuhan di sejumlah lembaga pemasyarakatan.

Kebijakan tersebut diambil untuk mengendalikan situasi keamanan yang memburuk dan menimbulkan ketakutan luas di tengah masyarakat.

Pada hari pertama pemberlakuan status darurat, Senin (20/1/2026), suasana Ibu Kota Guatemala City tampak lengang. Sejumlah ruas jalan terlihat setengah kosong, sementara aktivitas publik menurun drastis.

Laporan AFP menyebutkan, sekolah swasta, pengadilan, serta universitas di Guatemala City terpaksa ditutup. Warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah akibat kekhawatiran akan potensi serangan lanjutan dari kelompok kriminal

Status darurat diumumkan Presiden Guatemala Bernardo Arevalo pada Minggu (19/1/2026), menyusul rangkaian serangan terhadap aparat keamanan yang diduga dilakukan oleh anggota geng Barrio 18.

Delapan polisi tewas dalam serangan pada Minggu, sementara satu korban lainnya meninggal dunia pada Senin akibat luka berat.

Presiden Arevalo memimpin langsung upacara penghormatan bagi para polisi yang gugur di Gedung Kementerian Dalam Negeri Guatemala, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian aparat keamanan.

Di tengah situasi mencekam, kemarahan publik terhadap aksi geng kriminal semakin menguat. Seorang pria lanjut usia berusia sekitar 80 tahun di pusat bersejarah Guatemala City mengungkapkan pandangannya dengan nada keras.

“Satu-satunya cara memberantas geng kriminal adalah dengan membakar mereka,” ujar pria yang hanya memperkenalkan diri dengan nama belakang Espana kepada AFP.

Ia bahkan menyerukan agar Guatemala meniru kebijakan tegas Presiden El Salvador Nayib Bukele, yang dikenal melakukan penahanan massal terhadap anggota geng.

READ  Gubernur Banten Pastikan Pemulihan Revan Berjalan Lancar, Minta Aparat Tuntaskan Kasus

Pendapat serupa disampaikan Alejandra Donis (30), pemilik toko di Guatemala City. Menurutnya, pendekatan keras Bukele telah membawa perubahan nyata di El Salvador.

“Dulu sangat menakutkan hanya untuk keluar rumah. Sekarang El Salvador menjadi cukup ramah wisata dan orang-orang merasa aman,” katanya.

Namun, kebijakan Bukele juga menuai kritik internasional karena dianggap melanggar hak asasi manusia, meski di sisi lain berhasil menekan angka pembunuhan secara signifikan.

Gelombang kekerasan di Guatemala berawal dari kerusuhan di tiga penjara pada Sabtu (18/1/2026), ketika narapidana menyandera 45 petugas dan seorang psikiater.

Para tahanan menuntut pemindahan pemimpin geng dari penjara keamanan maksimum ke fasilitas dengan pengamanan lebih longgar.

Aparat kepolisian dan militer Guatemala kemudian menyerbu ketiga penjara tersebut pada Minggu dan mengklaim berhasil mengendalikan situasi.

Kementerian Dalam Negeri Guatemala bahkan merilis video di platform X yang memperlihatkan penangkapan seorang pria yang disebut sebagai pemimpin Barrio 18.

Pejabat mengidentifikasi sosok tersebut sebagai Aldo Dupie, alias “El Lobo” atau Serigala. Pasca operasi tersebut, kelompok geng dilaporkan melancarkan serangan balasan dengan menyasar pos polisi dan patroli keamanan.

Diketahui, Barrio 18 dan Mara Salvatrucha (MS-13) selama ini dituding sebagai aktor utama di balik perdagangan narkoba dan kekerasan kriminal di kawasan Amerika Tengah. Pemerintah Amerika Serikat telah menetapkan kedua geng tersebut sebagai organisasi teroris. (Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakRAT KDMP Pamagersari Tegaskan Optimisme Koperasi Dorong Ekonomi Desa
Artikulli tjetërTutup Rakernas APKASI, Mendagri Dorong Kepala Daerah Wujudkan Asta Cita