Publikbicara.com — Jika biasanya dukungan politik dibungkus rapi dalam sikap “netral”, Musyawarah Kecamatan (Muscam) KNPI Kecamatan Leuwiliang, Kamis, 15 Januari 2026, justru berjalan sebaliknya.
Suara OKP tak lagi berbisik, ia ditulis jelas, dibacakan sejarahnya. Dari forum itulah Halwan Fauzi keluar sebagai pemenang mutlak dan sah memimpin DPK KNPI Leuwiliang periode 2026–2029.

Hasilnya telanjang angka: 37 suara OKP untuk Halwan, sementara Heni Suheni harus puas dengan 16 suara. Namun yang paling “berisik” bukan selisihnya, melainkan kejujuran cara memilih.
Sejumlah OKP pendukung Halwan dengan sadar menyertakan nama organisasinya di kertas suara, seolah ingin berkata bahwa ini pilihan kami, tak perlu ditutup-tutupi.
Di saat politik kerap sibuk bermain simbol dan sandiwara netralitas, sejumlah OKP pendukung Halwan justru memilih terang-terangan.
Tanpa kode, tanpa bahasa tubuh, Sebuah sikap yang, bagi sebagian orang, mungkin dianggap “tidak lazim”, tapi justru menampar budaya dukungan diam-diam yang selama ini nyaman dipelihara.
Muscam ini pun berubah menjadi cermin kejujuran pemuda. Tak ada lagi ruang abu-abu, siapa bersama siapa, terlihat jelas di kertas suara.

Kemenangan Halwan Fauzi bukan hasil bisik lorong atau konsensus sunyi, melainkan dukungan terbuka yang sengaja diperlihatkan.
Kini ironi dimulai. Saat suara sudah dibuka seterang itu, publik pemuda tentu berharap kepemimpinan ke depan tak kembali redup.
Sebab suara yang ditulis tanpa malu-malu, akan menjadi pengingat keras bahwa kekuasaan yang lahir dari keterbukaan, tak pantas dijalankan dengan ketertutupan.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













