Publikbicara.com – Pagi itu, Senin, 23 Juni 2025, langit Cibinong menggantung kelabu. Di halaman Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor, para tamu berdatangan dengan langkah pasti, membawa pakaian rapi, harapan, dan tanggung jawab yang tak ringan.
Di dalam auditorium, tak sekadar kursi yang disusun, melainkan barisan komitmen yang tengah dirangkai.
Hari itu, bukan hanya soal pidato, bukan hanya seremoni. Itu adalah hari di mana pendidikan Bogor menuliskan ulang babak penting tentang integritas.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, berdiri di hadapan mikrofon, mewakili Bupati Rudy Susmanto.

Wajahnya tenang, namun sorot matanya bicara banyak, bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar tugas birokrasi yang ingin ia sampaikan.
Di hadapan perwakilan Forkopimda, Ketua Baznas, Ketua Dewan Pendidikan, Ketua PGRI, hingga para kepala perangkat daerah, Ajat berbicara seperti seorang penjaga garda terakhir.
“Melaksanakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) bukan sekadar prosedur tahunan. Ia adalah cermin dari wajah keadilan yang ingin kita bangun bersama. Integritas bukan pilihan, tapi fondasi yang harus dijaga dengan seluruh kehormatan yang kita miliki,” ucapnya, perlahan namun tegas.

Ia mengingatkan, bahwa SPMB adalah jantung dari pemerataan pendidikan. Bahwa setiap murid yang mendaftar bukan sekadar angka di dalam sistem daring, tapi impian yang dipertaruhkan.
Anak-anak dari berbagai penjuru Kabupaten Bogor menaruh harapan besar pada sistem yang bersih, adil, dan bebas dari tekanan.
Dan tugas pemerintah dalam hal ini Pemkab Bogor adalah memastikan bahwa harapan itu tidak diingkari oleh keserakahan atau kelalaian.

Sistem SPMB daring yang diterapkan, kata Ajat, adalah bagian dari komitmen Pemkab Bogor untuk memastikan proses penerimaan murid baru benar-benar bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, dan pungutan liar.
Sistem ini dirancang bukan hanya agar efisien, tetapi agar tidak satu pun anak harus tersingkir karena tidak punya ‘orang dalam’.
“Bupati ingin menjamin bahwa pendidikan adalah ruang yang netral dari segala bentuk penyimpangan. Bahwa semua anak di Kabupaten Bogor, dari pelosok desa hingga pusat kota, mendapat hak yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi,” lanjutnya.

Pernyataan itu menguat ketika satu per satu pejabat menandatangani Pakta Integritas SPMB. Tidak ada suara musik latar atau tepuk tangan riuh.
Hanya bunyi pena di atas kertas dan tatapan penuh kesadaran bahwa apa yang mereka tanda tangani hari itu bukan sekadar dokumen, melainkan janji kepada masyarakat, dan terutama kepada para siswa yang tak mengenal lobi kekuasaan.
Dalam momen yang sama, diserahkan pula beasiswa untuk 101 siswa SMP swasta, serta program bantuan biaya kuliah S1 untuk 202 guru PAUD.

Simbol bahwa pendidikan bukan hanya milik yang mampu, dan bahwa para guru yang selama ini mengabdi dalam senyap juga berhak untuk maju bersama.
Ajat menutup pidatonya dengan kalimat yang menggantung lama di udara. “Jika hari ini kita mampu menjaga integritas, maka kita sedang menjaga masa depan anak-anak kita dari luka yang diciptakan oleh ketidakadilan.”
Di luar, langit Cibinong masih mendung. Tapi di dalam ruangan itu, tekad untuk menjaga pendidikan tetap bersih telah dinyalakan. Dan kadang, itu lebih terang dari matahari.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













