Publikbicara.com – Jasinga, sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, memiliki sejarah panjang yang berakar pada peradaban Sunda kuno.
Nama “Jasinga” secara autentik merujuk pada naskah-naskah kuno, yang disusun oleh Panitia Wangsakerta Panembahan Cirebon.
Jasinga disebut sebagai Jayasinghapura, yang berarti “Gerbang Kemenangan,” dan diyakini didirikan oleh Raja Tarumanagara I, Jayasinghawarman.

Kitab Negara Kretabhumi sendiri merupakan catatan penting bagi raja-raja Nusantara, yang disusun dalam kurun waktu 21 tahun (1677-1698 M).
Kitab ini ditulis di tengah masa peralihan kekuasaan kerajaan-kerajaan Nusantara ke tangan penjajah Belanda.
Salah satu lontar dalam kitab ini, berjudul Akuwu Desa Jasinga, turut menjadi sumber utama dalam memahami sejarah wilayah tersebut.
Filosofi Nama Jasinga
Selain catatan sejarah, nama Jasinga juga memiliki makna filosofis yang mendalam.

Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Bogor, menuturkan bahwa Jasinga berasal dari konsep spiritualitas yang berkembang di kalangan masyarakat Sunda kuno.
Dalam pandangan ini, Jasinga adalah tempat para resi—tokoh spiritual yang memiliki pemahaman mendalam tentang kehidupan dan kebijaksanaan.
Menurut Jaker Bogor, nama “Jasinga” dapat diuraikan melalui siloka atau pemaknaan kata dalam bahasa Sunda:

- JA: Ungkapan yang terbuka, melambangkan keterusterangan dan kejujuran.
- SI: Identitas seseorang atau subjek yang memiliki karakter khas.
- NGA: Suatu hal yang bersifat batiniah, mencerminkan kedalaman jiwa dan kesadaran diri.
Berdasarkan pemaknaan ini, Jasinga sebagai “Gerbang Kemenangan” bukan sekadar simbol kejayaan fisik, tetapi juga kemenangan spiritual dan sosial.
Dengan itu, Ketua Jaker Bogor menegaskan bahwa kemenangan sejati bagi manusia adalah ketika ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan mengendalikan hawa nafsunya.

“Kemenangan seseorang bukan hanya soal pencapaian materi, tetapi juga keberhasilannya dalam membangun kesadaran diri. Gerbang kemenangan sejati dimulai dari dalam diri manusia sendiri,” Jasinga, 16 Maret 2025 di Jasinga.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa puncak spiritualitas manusia adalah kesadaran dan pengenalan terhadap dirinya sendiri.
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal siapa Tuhannya,”
Dalam ajaran Sunda, Jasinga juga dikaitkan dengan konsep Ngahiang, yang bermakna melepaskan kemelekatan duniawi.
Hal ini berkaitan dengan filosofi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang artinya: saling mengasah pengetahuan, saling mengasihi, dan saling membimbing.

“Jasinga adalah jalan atau tempat Siliwangi, Ngahiang. Seorang manusia yang sadar diri dan tahu diri memahami bahwa segala sesuatu dalam hidupnya adalah titipan dari Sang Maha Pencipta.”
“Dengan kesadaran ini, ia bisa mencapai kebijaksanaan sejati dan membebaskan dirinya dari keterikatan duniawi.”
Dari perspektif ini, Jasinga tidak hanya memiliki nilai sejarah yang kuat, tetapi juga menjadi simbol perjalanan spiritual dan sosial bagi masyarakatnya.
Sebagai “Gerbang Kemenangan,” Jasinga mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal kejayaan duniawi, melainkan juga keberhasilan dalam membangun kesadaran diri dan kehidupan yang harmonis.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow











