Beranda Daerah Sehari Tanpa Aktivitas, Ini Rangkaian Nyepi di Bali

Sehari Tanpa Aktivitas, Ini Rangkaian Nyepi di Bali

Oplus_131072

Ilustrasi upacara menjelang Nyepi di Bali. (Foto: Getty Images/Agung Parameswara).

Publikbicara.com – Hari Raya Nyepi menjadi momen penting bagi umat Hindu untuk melakukan refleksi diri dan penyucian lahir batin. Dalam perayaan ini, umat Hindu merenungkan kehidupan sekaligus memohon kepada Tuhan agar tercipta keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

Nyepi tidak hanya identik dengan suasana hening selama 24 jam, tetapi juga diiringi berbagai rangkaian tradisi sakral yang telah berlangsung turun-temurun, khususnya di Bali.

Pada hari Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni empat pantangan utama. Mulai pukul 06.00 pagi hingga 06.00 keesokan harinya, umat tidak menyalakan api atau listrik (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).

Sebelum memasuki Nyepi, terdapat sejumlah ritual penting. Dua hari sebelumnya, umat Hindu melaksanakan Melasti, yaitu ritual penyucian diri di sumber air seperti laut atau danau yang diyakini sebagai sumber tirta amerta atau air kehidupan.

Sehari sebelum Nyepi, digelar Upacara Bhuta Yadnya yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan alam dan menetralisir energi negatif. Pada hari yang sama, masyarakat juga melakukan Pengerupukan, yakni ritual mengusir roh jahat dengan bunyi-bunyian dan penyebaran nasi tawur di lingkungan sekitar.

Tradisi yang paling menarik perhatian publik adalah pawai Ogoh-ogoh, patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia dan energi negatif.

Ogoh-ogoh diarak keliling desa sebelum akhirnya dimusnahkan sebagai simbol pembersihan.

Selain itu, terdapat Tawur Agung Kesanga, upacara persembahan yang dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat provinsi hingga rumah tangga, sebagai upaya menjaga keharmonisan alam semesta.

Setelah Nyepi berakhir, umat Hindu merayakan Ngembak Geni, yang ditandai dengan kembali beraktivitas dan saling memaafkan.

READ  Kemenko Polkam Dorong Akselerasi Integrasi Data Kependudukan

Di beberapa daerah di Bali, tradisi ini juga diramaikan dengan Omed-omedan, ritual khas berupa tarik-menarik dan siraman air antar pemuda sebagai simbol kebersamaan dan penolak bala.

Melalui seluruh rangkaian tersebut, Nyepi tidak hanya menjadi hari raya keagamaan, tetapi juga momentum menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakKemenag Gelar Sidang Isbat Hari Ini, Ini Jadwal Lengkap Penetapan Idulfitri 1447 H
Artikulli tjetërArus Mudik Memuncak, Polisi Turun Tangan Atasi Macet di Leuwiliang