Beranda Kesehatan Dokter Mata Ingatkan Bahaya Glaukoma yang Kerap Tak Disadari

Dokter Mata Ingatkan Bahaya Glaukoma yang Kerap Tak Disadari

Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal. Foto: Urbanasia.

Publikbicara.com – Penyakit mata glaukoma masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan penglihatan karena kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Kondisi ini bahkan dijuluki sebagai “silent thief of sight” atau pencuri penglihatan secara diam-diam.

Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group, Dr. Zeiras Eka Djamal, mengatakan glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang menyebabkan kerusakan saraf optik secara bertahap. Salah satu pemicunya adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata.

“Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berkisar antara 10 hingga 21 mmHg. Ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi perlahan hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen,” ujarnya dikutip dari Viva.co.id.

Menurutnya, penyakit ini dapat menyerang siapa saja, meski lebih sering terjadi pada orang berusia di atas 40 tahun.

Secara global, glaukoma menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46 persen atau sekitar 4-5 kasus per 1.000 penduduk berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023.

Ironisnya, di negara berkembang sekitar 80-90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis karena sebagian besar penderita tidak merasakan gejala pada tahap awal.

Dr. Zeiras menjelaskan, glaukoma juga dapat terjadi sejak lahir. Pada bayi, kondisi ini dikenal sebagai glaukoma bawaan dengan angka kejadian sekitar 1 dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran.

Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan penglihatan yang lebih parah.

“Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Padahal kerusakan saraf optik sudah berlangsung lama tanpa disadari,” katanya.

READ  Yusril Pastikan Penegakan Hukum Pasca Kerusuhan Makassar Berjalan Sesuai Aturan dan Menjunjung HAM

Diagnosis glaukoma sendiri dilakukan melalui sejumlah pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata atau tonometri, pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang atau perimetri, serta pemeriksaan sudut drainase mata melalui gonioskopi.

Kombinasi pemeriksaan tersebut membantu dokter mendeteksi penyakit lebih dini sekaligus memantau perkembangan glaukoma agar kerusakan saraf optik dapat dikendalikan.

Pemeriksaan rutin sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga glaukoma, usia di atas 40 tahun, serta penderita penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi.

Adapun Pekan Glaukoma Sedunia 2026 berlangsung pada 8-14 Maret. Kegiatan ini merupakan inisiatif global dari World Glaucoma Association yang diperingati setiap minggu kedua bulan Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan kebutaan akibat glaukoma.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakTarling di Sukaraja, Wabup Jaro Ade Serahkan Bantuan untuk Masjid
Artikulli tjetërHarga Minyak Global Melonjak, Pemerintah Jamin Pertalite Tetap Stabil